Keikhlasan dalam Beribadah

Posted: Juni 18, 2011 in Uncategorized
  1. A.    Latar Belakang

Tugas utama manusia hidup di dunia ini adalah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah kepada-Nya merupakan bukti pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Dari berbagai ayat dan hadis dijelaskan bahwa pada hakekatnya manusia yang beribadah kepada Allah ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada wahyu Allah dan hadis Nabi SAW. Pengertian ibadah tidak hanya terbatas kepada apa yang disebut ibadah mahdhah atau rukun Islam saja, tetapi sangat luas seluas aspek kehidupan yang ada. Yang penting aktivitas yang kita lakukan harus diniatkan untuk ibadah kepada-Nya dan yang menjadi pedoman dalam mengontrol aktivitas ini adalah wahyu Allah dan sabda Rasul-Nya.

Namun ada satu aspek yang seringkali dilupakan dalam pelaksanaan ibadah kepada-Nya, yakni keikhlasan dalam menjalankannya. Keikhlasan dalam beribadah merupakan aspek yang sangat fundamental yang akan mempengaruhi diterima atau tidaknya ibadah kita.  Ibadah yang dilakukan tanpa keikhlasan adalah ibadah yang sia-sia.  Keikhlasan dalam beribadah inilah yang tegaskan oleh Allah dalam ayat-ayat-Nya. Seperti yang di jelaskan dalam surat al-An’am:162-163 dan al-Bayyinah:5

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Terjemahkan QS.al-An’am:162-163 dan QS.al-Bayyinah:5 serta hadits tentang keikhlasan dalam beribadah !
    2. Bagaimana kandungan QS.al-An’am:162-163 dan QS.al-Bayyinah:5 serta hadits tentang keikhlasan dalam beribadah !
    3. Bagaimana cara menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti yang terkandung dalam QS.al-An’am:162-163 dan QS.al-Bayyinah:5 serta hadits tentang keikhlasan dalam beribadah !
  1. C.    Tujuan
    1. Untuk mengetahui terjemahan QS.al-An’am:162-163 dan QS.al-Bayyinah:5 serta hadits tentang keikhlasan dalam beribadah !
    2. Untuk mengetahui kandungan makna QS.al-An’am:162-163 dan QS.al-Bayyinah:5 serta hadits tentang keikhlasan dalam beribadah !
    3. Untuk mengetahui bagaiman cara menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti yang terkandung dalam QS.al-An’am:162-163 dan QS.al-Bayyinah:5 serta hadits tentang keikhlasan dalam beribadah !

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Ayat dan Hadits Tentang Keikhlasan dalam Beribadah
    1. 1.      QS. Al-An’am: 162-163

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾[1]

Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(QS.Al-An’am: 162-163)[2]

  • Arti kata-kata:

v     إِنَّ صَلاَتِي           :Sesungguhnya shalatku

v     وَنُسُكِي               :Ibadahku

v     وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي    :Hidup dan matiku

v     رَبِّ الْعَالَمِينَ        :Tuhan semesta alam

v     لاَ شَرِيكَ لَهُ          :Tiada sekutu bagi-Nya

v     أُمِرْتُ                :Aku diperintahkan

v     أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ       :Orang yang pertama-tama berserah diri

 

 

 

  1. 2.      QS.Al-Bayyinah: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ﴿٥﴾[3]

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurusdan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.Al-Bayyinah: 5)[4]

  • Arti kata-kata:

v    وَمَا أُمِرُوا               dan mereka tidak disuruh :

v    إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ       melainkan supaya menyembah Allah :

v    وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ     dan yang demikian itulah agama yang lurus :

  1. 3.      Hadits tentang keihklasan dalam beribadah

 

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الّلهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الّلهِ صَلَّى الّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الّلهَ تَعَالَى لاَ يَنْظُرُ اِلَى اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ اِلَى قُلُوْبِكُمْ (رواه مسلم)

Artinya: “DariAbu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi ia melihat/memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu”. (HR. Muslim)[5]

  • Arti kata-kata:

v    لاَ يَنْظُرُ              Tidak melihat :

v    اَجْسَامِكُمْ              Bentuk badan :

v    صُوَرِكُمْ              Rupamu :

v    وَلَكِنْ                 dan tetapi :

v     قُلُوْبِكُمْ                Hatimu :

 

 

 

  1. B.     Kandungan Makna
    1. 1.    QS.Al-An’am:162-163

Adapun kandungan makna QS. Al-An’am ayat 162-163 adalah sebagai berikut:

  • Suruhan Allah SWT kepada setiap individu manusia(muslim/muslimah) untuk berkeyakinan bahwa shalatnya, hidupnya dan matinya adalah semata-mata untuk Allah SWT.
  • Allah SWT itu adalah Tuhan Yang Maha Es, tiada sekutu bagi-Nya dan pencipta, pemelihara serta pengatur alam semesta berikut segala isinya.
  • Suruhan Allah SWT kepada setiap individu manusia(muslim/muslimah) untuk berlaku ihklas dalam berkeyakinan(beraqidah), beribadah dan beramal.[6]

Kata (نُسُك) nusuk pada umumnya diartikan sembelihan, tetapi yang dimaksud pada ayat ini bukan saja sembelihan tetapi lebih luas yaitu ibadah, termasuk sholat dan sembelihan itu. Pada asalnya kata ini dipakai untuk menggambarkan sepotong perak yang dibakar agar kotoran dan bahan-bahan lain yang menyertai potongan perak itu terlepas darinya sehingga yang ada tinggal perak murni. Demikian juga ibadah disebut nusuk untuk melukiskan bahwa ia seharusnya suci, murni dikerjakan penuh dengan ikhlas semata-mata hanya mencari ridha Allah.[7]

Kemudian disebutkannya kata shalat sebelum kata ibadah (walaupun shalat adalah salah satu dari ibadah) hal ini mempunyai tujuan untuk menunjukkan betapa penting ibadah shalat tersebut bagi manusia. Karena shalat merupakan bentuk kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan oleh setiap orang yang mengaku sebagai muslim, apapun alasannya. Hal ini berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya.

Pada ayat berikutnya (163), Allah masih menyuruh Nabi untuk menegaskan bahwa tiada sekutu bagi Allah sebagai manifestasi tauhid. Hal ini menjadi dasar diperintahkannya beliau menjadi utusan Allah. Atas perintah ini, nabi Muhammad pun diminta menyatakan, “Aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)”.[8] Dalam pengertian, beliau adalah orang yang paling sempurna kepatuhan dan penyerahan dirinya kepada Allah.

  1. 2.    QS.Al-Bayyinah: 5

Adapun kandungan makna QS.Al-Bayyinah ayat 5 adalah sebagai berikut:

  • Perintah untuk menyembah hanya kepada Allah SWT dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT.[9]
  • Perintah untuk memurnikan agama Allah dari ajaran-ajaran kemusyrikan.
  • Perintah untuk mendirikan shalat dan zakat.
  • Menyembah kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan adalah agama yang benar dan lurus.

Surat ini turun sebagai bentuk penegasan kembali atas tindakan Ahl al-kitab (Yahudi dan Nasrani) yang melampaui batas. Misalnya, umat Nasrani telah menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan, sementara itu kaum Yahudi menghinakannya. Melalui ayat ini Allah mengingatkan kembali kepada mereka agar kembali kepada agama yang lurus (din al-qayimah). Agama yang lurus ini bercirikan tiga hal, yaitu adanya ketundukan dan kepatuhan hanya kepada Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.[10]

Ketundukan dan kepatuhan secara murni menjadi kunci terbentuknya sikap lurus dan senantiasa condong kepada kebajikan. Sebaliknya, ketundukan dan kepatuhan yang tidak murni (syirik) menjadi akar penyimpangan dan kecondongan kuat untuk berbuat yang berlawanan dengan nilai-nilai kebajikan. Ada dua kata kunci dalam ayat ini untuk mencapai ketundukan dan kepatuhan secara murni kepada Allah, yaitu kata mukhlisin dan hunafa’.

Kata (مخلصين) mukhlishin adalah berbentuk isim fa’il berasal dari kata خلص)) khalusha yang artinya murni setelah sebelumnya diliputi kekeruhan. Dari sini  ikhlas merupakan usaha memurnikan dan menyucikan  hati sehingga benar-benar tertuju kepada Allah semata, sedang sebelum keberhasilan itu hati masih biasanya diliputi atau dihinggapi oleh hal-hal selain Allah, seperti pamrih dan yang semacamnya.[11]

Kata (حنفاء) hunafa’ adalah berbentuk jamak dari kata mufrod (حنيف) hanif yang biasa diartikan lurus atau cenderung kepada sesuatu(kebajikan). Agama Islam disebut juga sebagai agama hanif karena posisinya yang lurus (berada di tengah-tengah). Artinya, tidak cenderung pada materialisme dan mengabaikan yang spiritual atau sebaliknya.

                        Penyebutan shalat dan zakat secara khusus mempunyai arti akan pentingnya menjalin hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.

  1. 3.    Hadits

Dalam hadits di atas rasulullah menjelaskan bahwa setiap kita dalam berbuat, melakukan sesuatu atau beribadah akan dilihat oleh Allah dari niat ikhlas kita dalam melakukannya. Allah tidak melihat penampilan kita, dalam arti rupa dan bentuk badan/jasad kita, melainkan Allah akan melihat dan memperhatikan sejauh mana tingkat keikhlasan kita dalam melakukan sesuatu atau beribadah kepada-nya.[12]

            Niat dan ikhlas dalam beramal/beribadah dalam Islam merupakan pilar utama dalam ibadah bahkan menjadi ruhnya ibadah. Hal tersebut disebabkan karena amal seorang mukmin baru akan bernilai ibadah yang diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat : niat ikhlash (karena Allah) dan benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw). Para ulama meyakini bahwa niat ikhlas (amal batin) lebih utama dari amal lahir (perbuatan), meskipun kedua-duanya mutlaq diperlukan adanya

Niat artinya bermaksud, berkeinginan, atau bertekad. Ia merupakan amalan batin atau hati, yang karenanya tidak harus dilafadzkan. Sementara ikhlas artinya menjadikan Allah sebagai niat utama, tujuan utama, atau sebab utama dalam melakukan suatu amal.

 

  1. C.    Cara Menampilkan Sikap Ikhlas Beribadah dalam Kehidupan Sehari-hari
    1. Buruk sangka terhadap diri sendiri dan tidak berbangga dengan keberhasilan. Allah berfirman :

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

Maksudnya, karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

  1. Tidak adanya perubahan sikap, ketika dipuji maupun dicela atas amal yang telah ia lakukan, karena ia memang hanya mengharapkan ridha Allah semata, dan karenanya tidak pernah mengharapkan pujian seseorang atau takut akan celaannya. Seorang yang diberi taufik oleh Allah ta’ala tidaklah terpengaruh oleh pujian manusia apabila mereka memujinya atas kebaikan yang telah dilakukannya. Apabila dia mengerjakan ketaatan, maka pujian yang dilontarkan oleh manusia hanya akan menambah ketawadhu’an dan rasa takut kepada Allah. Dia yakin bahwa pujian manusia kepada dirinya merupakan fitnah baginya, sehingga dia pun berdo’a kepada Allah ta’ala agar menyelamatkan dirinya dari fitnah tersebut. Dia tahu bahwa hanya Allah semata, yang pujian-Nya bermanfaat dan celaan-Nya semata yang mampu memudharatkan hamba.
  1. Lebih senang untuk menyembunyikan amal baiknya, karena takut riya’. Namun tidak kemudian karena takut riya’ lalu justru meninggalkan suatu amalan kebaikan. Sebab barangsiapa berbuat demikian maka ia secara tidak sadar sebenarnya tidak ikhlas juga. Amal yang tersembunyi dengan syarat memang amal tersebut patut disembunyikan, lebih layak diterima di sisi-Nya dan hal tersebut merupakan indikasi kuat bahwa amal tersebut dikerjakan dengan ikhlas.

Seorang mukhlis yang jujur senang menyembunyikan berbagai kebaikannya sebagaimana dia suka apabila keburukannya tidak terkuak. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah ta’ala dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. mereka adalah seorang pemimpin yang adil; seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah; seorang pria yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atas kecintaan kepada-Nya; seorang pria yang diajak (berbuat tidak senonoh) oleh seorang wanita yang cantik, namun pria tersebut mengatakan, “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”; seorang pria yang bersedekah kemudian dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu aa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya; seorang pria yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi dan air matanya berlinang.” (Muttafaqun ‘alaihi).

  1. Melihat Amal Orang Shalih yang Berada di Atas Kita

Janganlah anda memperhatikan amalan orang yang sezaman denganmu, yaitu orang berada di bawahmu dalam hal berbuat kebaikan. Perhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shalih terdahulu sebagai panutan anda. Allah ta’ala berfirman,ُ

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran). Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” (Al An’am: 90).

  1. Menganggap Remeh Amal

Penyakit yang sering melanda hamba adalah ridha (puas) dengan dirinya. Setiap orang yang memandang dirinya sendiri dengan pandangan ridha, maka hal itu akan membinasakannya. Setiap orang yang ujub akan amal yang telah dikerjakannya, maka keikhlasan sangat sedikit menyertai amalannya, atau bahkan tidak ada sama sekali keikhlasan dalam amalnya, dan bisa jadi amal shalih yang telah dikerjakan tidak bernila


[1] Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Jumanatul ‘Ali-Art, 2005), 150.

[2] Ibid., 150.

[3] Ibid., 598.

[4] Ibid., 598.

[5] Tim AL FATH, Al-fath: Al Qur’an Hadits Kelas X Semester Genap, (Gresik: CV.Putra Kembar Jaya, 2008), 58.

[6] Tim Guru Pendidikan Agama Islam, Al-Qur’an dan Hadits, (Gresik: SMA As SA’adah, 2006), 36.

[7] Team Musyawarah guru Bina PAI MA, Al-Hikmah: Modul Qur’an Hadits Kelas X Semester genap, (Sragen : Akik Pusaka, 2008), 54.

[8] Lilis Fauziyah, Andi Setyawan, Kebenaran  Al Qur’an dan Hadits, (Malang: Tiga Serangkai, 2008), 132.

[9] Tim Guru Pendidikan Agama Islam,  Al-Qur’an dan Hadits,37.

[10] Lilis Fauziyah, Kebenaran, 133.

[11] Team Musyawarah guru Bina PAI MA, Al-Hikmah: Modul Qur’an Hadits Kelas X Semester genap, (Sragen : Akik Pusaka, 2008), 55.

[12] Tim AL FATH,  Al-Fath, 58.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s