Khitbah

Posted: Juni 18, 2011 in Uncategorized
  1. A.    Pengertian Khitbah(Meminang)

Kata khitbah (خِطْبَةٌ) dalam terminology arab memiliki 2 akar kata. Yang pertama al-khitha )  (الْخِطَبَyang berarti pembicaraan dan yang kedua al-khathb(الْخَطْبَ)  yang artinya persoalan, kepentingan dan keadaan. Jadi, jika dilihat dari segi bahasa khitbah adalah pinangan atau permintaan seseorang (laki-laki) kepada perempuan tertentu untuk menikahinya.[1]

Menurut Istilah khitbah(meminang) adalah permintaan seorang laki-laki kepada anak perempuan orang lain atau seorang perempuan yang ada di bawah perwalian seseorang untuk dikawini, sebagai pendahuluan nikah. Meminang adalah kebiasaan Arab lama yang diteruskan oleh Islam. Meminang dilakukan sebelum terjadinya akad nikah dan setelah dipilih masak-masak.[2]

Sedangkan menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaily menjelaskan yang dimaksud Khithbah adalah menampakan keinginan menikah terhadap seorang perempuan tertentu dengan memberitahu perempuan yang dimaksud atau keluarganya (walinya).[3] Selain itu Sayid Sabiq juga menyatakan bahwa yang dikatakan seseorang sedang mengkhitbah seorang perempuan berarti ia memintanya untuk berkeluarga yaitu untuk dinikahi dengan cara-cara (wasilah) yang ma’ruf.

 

  1. B.     Hukum Khitbah

Adapun mengenai status hukum khitbah, terjadi silang pendapat dikalangan ulama. Pendapat jumhur (imam syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali) mengatakan bahwa khitbah tidaklah wajib (Mubah/boleh), berbeda menurut Dawud adz-Dhahiri yang mengatakan bahwa khitbah adalah wajib. Pangkal perbedaan pendapat ini ialah adanya perbedaan dalam memahami dan menafsiri prilaku khitbah Rasulullah SAW, apakah hal tersebut itu merupakan kewajiban atau hanya sekedar anjuran .

 

 

 

 

  1. C.    Syarat-Syarat Ketentuan Khitbah

Khitbah diperbolehkan oleh agama apabila terpenuhi syarat-syarat di bawah ini:

  1. Tidak berstatus pinangan orang lain, seperti dalam hadits riwayat Muslim mengatakan :

الْمُؤْمِنُ أَخُوالْمُؤْمِنِ فَلاَ يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلاَ يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَدَرَ(رواه مسلم)

“Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Karenanya, tidak diperbolehkan bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli oleh saudaranya dan tidak boleh meminang seorang wanita yang sedang dipinang oleh saudaranya, sehingga ia meninggalkannya”.(HR.Muslim)

Keharaman ini jika pelamar kedua tidak mendapat izin dari pelamar pertama atau ada unsur penolakan dari pihak mempelai wanita, itu tadi adalah pendapat mayoritas ulama’ (Hanafiah, Malikiah dan Hanabilah), namun sebagian ulama’ lain memperbolehkan khitbah tersebut apabila tidak ada jawaban yang jelas dari mempelai wanita.

Menurut Ibnul Qasim dan Ibnu Hazm berpendapat, maksud larangan tersebut jika seorang yang saleh meminang di atas pinangan orang yang shaleh pula. Sedang apabila peminang pertama tidak baik dalam hal agama dan pergaulannya sementara peminang kedua lebih baik, maka pinangan semacam ini diperbolehkan. Atau jika pelamar pertama membatalkan lamarannya maka pada saat itu diperbolehkan bagi laki-laki lainnya melamar wanita tersebut. Atau jika wanita itu menolak lamaran pertama, maka diperbolehkan bagi laki-laki lain untuk melamarnya.[4]

  1. Perempuan yang dipinang tidak terhalang oleh halangan syar’i, yang menyebabkan tidak dapat dinikahi. Sedang perempuan yang dapat dinikahi syaratnya:
    1. Tidak bersuami
    2. Tidak memiliki hubungan mahram
    3. Tidak dalam masa ‘Iddah,
    4. وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri menangguhkan dirinya empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.(Al-Baqarah: 234)

dengan ketentuan :

v Apabila perempuan masih dalam ‘iddah raj’i ia haram dipinang, karena masih menjadi hak suaminya. Suaminya masih berhak merujuknya sewaktu-waktu.[5]

v Apabila perempuan itu menjalani ‘iddah karena thalaq ba’in haram dipinang dengan terang-terangan , karena suami masih berhak merujuknya dengan akad baru tetapi boleh dipinang dengan sindiran (kinayah).

v Apabila perempuan itu sedang ‘iddah karena ditinggal mati suaminya, ia boleh dipinang dengan sindiran, sebab hubungannya dengan suami yang mati sudah putus.

 

  1. D.    Proses Khitbah
  2. 1.    Melihat calon istri sebelum meminang

Laki-laki yang meminang boleh melihat perempuan pinangannya untuk melihat kecantikannya agar lebih memantapkan hati untuk menikahinya atau untuk mengetahui cacaatnya yang akan memberi kesempatan kepadanya untuk mencari pilihan lain. Kebolehan melihat ini adalah kekhususan pada saat mengkhithbah Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَقَدَرَ أنْ يَرَى مِنْهَا بَعْضَ مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ (رواه احمد وأبو داود عن جابر)

Artinya:   “Apabila salah seorang diantara kamu meminang perempuan , maka kalau dapat melihat sesuatu yang dapat mendorongnya untuk nikah maka hendaknya dilakukan”. (riwayat Ahmad dan Abu Dawud  dari Jabir)        

Mengenai hal ini, para ulama’ berbeda pendapat mengenai bagian-bagian yang boleh dilihat. kebanyakan ulama’ hanya memperbolehkan melihat pada bagian muka dan dua telapak tangan. Hal ini berkenaan dengan firman Allah:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ﴿النور:٣١﴾

Artinya: “Dan janganlah mereka (kaum wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya”.(QS.an-Nur:31) .

Yang dimaksud adalah muka dan dua telapak tangan. Di samping itu juga diqiyaskan dengan kebolehan membuka muka dan dua telapak tanganpada waktu berhaji.[6]

Fuqaha’ yang lain membolehkan melihat seluruh bagian badan kecuali dua kemaluan. Sementara fuqaha’ yang lain lagi melarang melihat sama sekali. Mereka berpegangan dengan aturan pokok yaitu larangan melihat orang wanita. Dinukil oleh Ath-thahawi dari suatu kaum, dimana disebutkan: bahwasannya tidak diperbolehkan melihat wanita yang hendak dilamar sebelum diadakannya akad nikah. Karena pada saat itu wanita tersebut belum menjadi istrinya.

Menurut Abu Hanifah diperbolehkan melihat dua telapak kaki, muka dan dua telapak tangan.[7]Sedangkan menurut Al-Auza’i mengatakan: “Boleh melihat pada bagian-bagian yang dikehendaki, kecuali aurat”. Adapun Ibnu Hazm mengatakan: “Boleh melihat pada bagian depan dan belakang dari wanita yang hendak dilamarnya”.[8]

Sedangkan menurut madhab Hanabilah berpendapat boleh melihat wanita yang dipinang pada 6 anggota tubuh yaitu : muka, tangan, telapak kaki, lutut, betis dan kepala. Dikarenakan melihat keenamnya merupakan kebutuhan yang mendukung berlangsungnya pernikahan.

  1. 2.    Kriteria Jodoh
  2. a.    Memilih calon istri

Dalam memilih calon istri, Islam telah memberikan beberapa petunjuk di antaranya :

v Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخارى و مسلم(

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits di atas dapat kita lihat, bagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan kecantikan sekalipun.[9]

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ…….﴿البقراة :٢٢١﴾

Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .” (QS. Al Baqarah : 221)

v Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ, فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ

Artinya: Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ” … kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak. Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Al Waduud  (الْوَدُوْدُ)berarti yang penyayang atau dapat juga berarti penuh kecintaan, dengan dia mempunyai banyak sifat kebaikan, sehingga membuat laki-laki berkeinginan untuk menikahinya.

Sedang Al Mar’atul Waluud(الْمَرْأَةُ الْوَلُوْدُ) adalah perempuan yang banyak melahirkan anak. Dalam memilih wanita yang banyak melahirkan anak ada dua hal yang perlu diketahui :

  • Kesehatan fisik dan penyakit-penyakit yang menghalangi dari kehamilan. Untuk mengetahui hal itu dapat meminta bantuan kepada para spesialis. Oleh karena itu seorang wanita yang mempunyai kesehatan yang baik dan fisik yang kuat biasanya mampu melahirkan banyak anak, disamping dapat memikul beban rumah tangga juga dapat menunaikan kewajiban mendidik anak serta menjalankan tugas sebagai istri secara sempurna.
  • Melihat keadaan ibunya dan saudara-saudara perempuan yang telah menikah sekiranya mereka itu termasuk wanita-wanita yang banyak melahirkan anak maka biasanya wanita itu pun akan seperti itu.[10]

v Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang              belum pernah nikah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ, فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ

Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani)

v Al Kafa’ah (Sekufu)

Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. [11]firman Allah Ta’ala,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Artinya:Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

v Nasab-nya baik

Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya. Karena keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.

 

  1. b.    Memilih calon suami

v Berilmu dan Baik Akhlaknya.

Masa depan kehidupan suami-istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka Islam memberi anjuran agar memilih taat beragama, berakhlaq mulia serta keturunan yang baik, shalih.

Laki-laki yang memilki keistimewaan adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaan dan keshalihan akhlak. Dia mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan dirinya serta agamanya, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai suami, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dengan tenaga dan nafkah.

Sesungguhnya seorang lelaki yang beragama akan menjaga wanita dan memeliharanya, dan akan mempergauli isterinya dengan cara yang baik, akan bersabar atas kekurangan-kekurangan isteri, dan ini yang terpenting. Maka bila lelaki itu mencintainya, dia akan memuliakan isterinya, dan jika dia membencinya, dia tidak akan mendhaliminya meskipun si isteri suka hidup bersamanya, dan bila lebih mengutamakan bercerai, maka dia tidak menahannya untuk menyakitinya, tetapi dia pisah dengan perpisahan yang sebaik-baiknya.

Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki :

“Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

Untuk dapat mengetahui agama dan akhlak calon suami, salah satunya mengamati kehidupan si calon suami sehari-hari dengan cara bertanya kepada orang-orang dekatnya, misalnya tetangga, sahabat, atau saudara dekatnya.

v  Khusus bagi seorang muslimah yang hendak memilih calon pendamping, ada satu kriteria yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah termasuk dalam kategori dosa besar.[12] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

Artinya:Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih).

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membolehkan bahkan menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha:

عن فاطمة بنت قيس رضي الله عنها قالت: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت: إن أبا الجهم ومعاوية خطباني؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه

Artinya:Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.(HR. Bukhari-Muslim)

Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta.

Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk diberi rizki.

 

 

 

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

Artinya:“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32)

 

  1. E.     Hikmah Khitbah

Allah Swt, ketika menyebutkan suatu hal dalam Al-Qur’an, pasti memiliki hikmah yang sangat dalam akan hal tersebut, begitupun dalam hal mengkhitbah, ketika Allah Swt, menerangkan bolehnya mengkhitbah pasti ada hikmah di balik pelaksanaannya itu, paling tidak ada tiga hal, hikmah dilaksanakannya seseorang dalam mengkhitbah.

  1. Dengan proses khitbah, bisa saling mengenal antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya, mengenal bentuk wajah seseorang yang mengkhitbah dan hal itu tidak bisa kecuali dengan cara mengkhitbah, karena khitbah memudahkan proses jalannya ta’aruf antara seorang yang mengkhitbah ( Laki-laki) dan yang dikhitbah ( Perempuan) atau pun keluarga dari keduanya.
  2. Ketika seseorang sudah memasuki masa khitbah dapat memperbanyak ibadah dan menggali pengetahuan tentang kerumah tanggaan karena dengan hal ini dapat menambah ketentraman antara yang mengkhitbah dan yang dikhitbah dan hal itu akan berdampak pada baiknya rumah tangga setelah proses pernikahan.
  3. Khitbah juga dapat berakibat pada ketenangan jiwa seseorang, karena proses khitbah merupakan pengikat antara orang mengkithbah dan dikhitbah dengan ikatan pendahuluan yang memungkinkan antara keduanya merasakan ketenangan dalam prosesnya menuju penikahan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al Hamdani, H.S.A. 2001. Risalah Nikah. Jakarta: Pustaka Amani.

 

Kurnia, MR. 2005. Memadukan Dakwah dan Keharmonisan Rumah Tangga. Bogor: Al-Azhar Press.

 

M.uwaidah, Syaikh kamil. 2009.  Fiqih wanita. Jakarta: Pustaka Kautsar.

 

Ramayulis. 2008. Ilmu pendidikan islam. Jakarta: Kalam ilmu.

 

Rusyd, Ibnu. 2007. Tarjamah Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Jakarta: Pustaka Amani.

 

http://anugerah.hendra.or.id/pernikahan/akad-nikah/khitbah-dan-akad-nikah/

 

http://pakarinfo.blogspot.com/2010/11/kriteria-khusus-memilih-calon-suami.html

http://gugundesign.wordpress.com/2009/03/18/kriteria-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam/

 


[2] H.S.A.Al Hamdani, Risalah Nikah,(Jakarta: Pustaka Amani,2001)hlm.31

[3] MR. Kurnia, Memadukan Dakwah dan Keharmonisan Rumah Tangga, (Bogor: Al-Azhar Press, 2005)hlm.19

[4] Syaikh kamil M.uwaidah, Fiqih wanita,(Jakarta: Pustaka Kautsar, 2009)hlm.432

[5] H.S.A. Al-Hamdani,Risalah nikah,hlm.32

[6] Ibnu Rusyd, Tarjamah Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid,(Jakarta: Pustaka Amani, 2007)hlm.397

[7] Ibid,.hlm.396

[8] Syaikh kamil M.Uwaidah, Fiqih wanita,hlm.423

[10] Ibid

[12] Ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s