Depresi

Posted: Juli 22, 2011 in Uncategorized

A. Pengertian Depresi

Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup. Depresi dapat menjadi bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affective/mood disorder) yang melumpuhkan dan kuat yang berlangsung terus-menerus sehingga mengganggu kemampuan seseorang dalam berpikir, bekerja, makan, tidur, bergaul, dan merawat diri.

Depresi merupakan suatu gangguan keadaan tonus perasaanyang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apati, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan.[1]

Menurut seorang ilmuwan terkemuka yaitu Rice, P. L., memberikan definisi depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan. Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang psikopatologis, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas. Meyer berpendapat bahwa depresi adalah reaksi seseorang terhadap pengalaman hidup.

 B. Faktor-faktor Penyebab Depresi

Faktor-faktor yang menjadi penyebab depresi ada yang disebut faktor-faktor pendukung (predisposing factors) yaitu keberadaan orang sebelum stres (tekanan hidup) itu tiba yaitu faktor-faktor bawaan yang ada di dalam diri seseorang yang menjadi modal pertama dari timbulnya depresi.

1.   Faktor-faktor pendukung (predisposing faktor):

a.   Faktor biologis (keturunan, ketidakseimbangan faktor kimiawi dan faktor gangguan kelenjar hormon).

b.   Faktor-faktor psikologis

v  Pengalaman masa kecil yang merupakan perlakuan kejam orangtua terhadap anak misalnya:

  • Ketidakpedulian orangtua terhadap anak sehingga suka memaksakan pendapat, bersikap selalu benar, menggunakan kekuasaan supaya anak patuh, tidak mengajak anak bicara.
  • Tidak memberikan kasih sayang secara benar, sikap orangtua suka menuduh dan mempersalahkan anak, menekan perasaan anak, terus-menerus mengancam dan menakut-nakuti anak.
  • Orangtua sibuk, suka membohongi anak karena tidak mau direpotkan, tidak ada waktu untuk mendengarkan anak.
  • Orangtua terlalu menuntut, menerima anak dengan syarat, menuntut anak sempurna, secara berlebihan menuntut prestasi yang istimewa.
  • Orangtua suka membanding-bandingkan seorang anak dengan anak yang lain atau menganak-emaskan salah satu anak.
  • Penganiayaan emosi dengan cara berteriak-teriak terhadap anak, membentak dan mengomel, suka memberi label yang tidak baik pada anak.
  • Menyakiti anak secara fisik misalnya dengan memukul, mengguncang atau mendorong, menampar, menendang dan lain-lain.
  • Mengalami penganiayaan seksual.

v  Ketidak harmonisan dalam rumah tangga.

v  Penderitaan berat pada masa kecil/early trauma misalnya dipisahkan dari orang-orang yang dikasihi lewat perceraian atau kematian.

v  Kekurangan persiapan dan pengalaman hidup (inadequate learning).

c.   Faktor-faktor sosial, misal, macam dan suasana pekerjaan yang tidak menyenangkan, kelas sosial, kelompok kebudayaan tertentu, tempat tinggal, anggota dari kelompok minoritas, seks, status pernikahan, agama, dan lain-lain.

d.   Faktor-faktor rohani

v  Arti kehidupan

Banyak orang yang putus asa dan kehilangan semangat untuk meneruskan kehidupan oleh karena mereka tidak lagi melihat meaning of life (arti daripada kehidupannya), sehingga mereka tidak mempunyai alasan untuk hidup, dan pengharapan masa depan.

v  Tidak mengenal Tuhan secara pribadi

v  Orang yang mengenal Tuhan dan memiliki hubungan pribadi denganNya akan memiliki sukacita, kasih, dan sebagainya. suatu kelepasan daripada belenggu persoalan kehidupan manusia. Tidak adanya pengenalan seperti ini bagi banyak orang benar-benar menjadi sumber dari frustrasi, tekanan hidup dan keragu-raguan yang terus-menerus.

2.   Precipitating factors (faktor-faktor penyebab)

Selain faktor pendukung, ada juga faktor   precipitating factors (faktor-faktor penyebab).

a.   Faktor-faktor biologis

Gangguan fisik misalnya, kecapaian dan kelaparan, kekurangan tidur, kekurangan gizi, penyakit dapat menjadi penyebab timbulnya depresi jikalau kadarnya tinggi (terulang-ulang terus-menerus).

b.   Faktor-faktor psikis misalnya, tekanan-tekanan jiwa atau stresor yaitu suatu keadaan yang dirasakan sangat menekan sehingga seseorang tidak dapat beradaptasi dan bertahan seperti frustasi, konflik-konflik, dan sebagainya.

c.   Faktor-faktor sosial, misalnya, pertengkaran, salah paham, tekanan dari lingkungan, peperangan, bencana alam, kecelakaan, tekanan ekonomi dan tekanan dalam keluarga.

d.   Faktor-faktor rohani, misalnya perasaan berdosa dan bersalah.

Faktor pendukung, tidak pernah independen tanpa faktor-faktor penyebab. Maka bakat-bakat turunan ini tidak secara otomatis menjadi depresi berat. Jadi predisposing factors adalah faktor-faktor bawaan yang menjadi modal pertama bagi timbulnya depresi berat sedangkan precipitating factors adalah faktor-faktor penyebab sehingga predisposing factors itu mengekspresikan dirinya dan menjadi gejala depresi berat dalam diri orang yang bersangkutan.[2]

 C. Tingkatan Depresi dan Gejalanya

Depresi adalah kelanjutan dari stres kronis atau stres yang berkelanjutan yaitu ketika situasi menekan tidak kunjung menghilang dan terus hadir serta mendera hidup seseorang sehingga ia tidak mampu lagi menanggulangi stresor psikososial yang dialaminya.

Tingkatan depresi dimulai dari stres . Stres yang berlangsung bertahun-tahun akan menjadi kronis (stres berat) sehingga akhirnya membuat seseorang kehilangan harapan dan tidak lagi berusaha mencari penyelesaian. Stres berat menyebabkan naiknya kadar cortisol dan menurunnya kadar hormon pelindung DHEA. Kondisi inilah yang menjadi penyebab stres berlanjut ke tingkat yang lebih parah yaitu depresi, yang dimulai dengan depresi ringan, depresi sedang, depresi berat tanpa gejala psikotik dan depresi berat dengan gejala psikotik.

 Gejala-gejala depresi

a.   Gejala-gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat):

1.   Afek depresif

Afek depresif ditandai dengan perasaan putus asa, perasaan sedih (murung), suasana hati (mood) yang “kosong”, gelisah dan sedih yang terus-menerus, mudah terharu, mata berlinang atau menangis, perasaan tanpa harapan, apatis, gelisah (agitasi) yaitu merasa tegang dan sulit duduk lama, bisa berkembang menjadi serangan panik atau sebaliknya menjadi lemah tak berdaya (retardasi psikomotor).

2.   Kehilangan minat dan kegembiraan

Penderita depresi kehilangan minat atau tidak mampu menikmati aktivitas yang menyenangkan, gairah hidup menurun, pesimis, kehilangan minat di dalam penampilannya sehari-hari. Ia juga tidak lagi mempunyai gairah terhadap hobi dan aktifitas yang dulu dinikmati, termasuk seks (libido menurun). Ia ingin menyendiri, tidak semangat, merasa tidak berdaya. Biasanys penderita menarik diri dari pergaulan sosial; iritabilitas (mudah tersinggung) atau marah yang berlebihan tidak pada tempatnya dan bersifat curiga. Ia tidak mampu menanggapi pujian atau penghargaan dengan perasaan senang.

3.   Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah

Orang yang mengalami depresi pada tahap ini merasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja. Badannya selalu terasa letih, lemah, tidak memiliki gairah kerja dan menurunnya aktivitas. Gerakan tubuhnya menurun (lamban), kurang aktif . Bicaranya kurang dari biasanya dan semangatnya menurun drastis.

b.   Gejala lainnya:

1.   Konsentrasi dan perhatian berkurang

Penderita depresi mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat dan mengambil keputusan. Ia bingung serta tidak mampu untuk berpikir jernih. Pikirannya dikuasai oleh hal-hal yang menyakitkan dan biasanya ia mengkhayal (delusional).

2.   Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.

Pikiran yang menyakitkan, cenderung menghina diri sendiri (memiliki konsep diri yang negatif), merasa diri tidak bernilai, menganggap diri kurang baik, tidak layak, menganggap diri tidak diingini dan tidak berguna, menolak diri sendiri, merupakan gejala-gejala yang nampak pada penderita depresi yang kehilangan harga diri.

3.   Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, merasa berdosa, penyesalan, dan putus asa.

4.   Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.

Penderita depresi bersikap pesimis terhadap masa depan. Ia menyesali peristiwa masa lalu atau mengasihani diri sendiri, melihat kehidupan masa depan penuh kesukaran, frustrasi, dan kerugian.

5. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri, pikiran dikuasai oleh pikiran-pikiran untuk bunuh diri atau diselimuti oleh pemikiran tentang kematian.

6.   Tidur terganggu, mengalami insomnia (sulit tidur), bangun terlalu pagi, atau malah kebanyakan tidur (hipersomnia).

7. Nafsu makan berkurang diikuti turunnya berat badan dan hanya memiliki sedikit nafsu makan atau nafsu makan besar diikuti kegemukan,

 Depresi Ringan

Pedoman Diagnostik:

  1. Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala utama depresi seperti tersebut di atas,
  2. Ditambah sekurang-kurangnya dua dari gejala lainnya: (1) sampai dengan (7).
  3. Tidak boleh ada gejala yang berat di antaranya.
  4. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar dua minggu.
  5. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.
  6. Bisa tanpa gejala somatik atau dengan gejala somatik (mengalami gangguan di bidang fisik, seringkali mengeluh sakit ini dan itu tapi tidak ada penyakit atau menderita penyakit yang tidak sembuh-sembuh, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, diare atau sembelit).

 Depresi Sedang

Pedoman Diagnostik:

  1. Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala utama depresi seperti pada episode depresi ringan,
  2. Ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) dari gejala lainnya.
  3. Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar dua minggu.
  4. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.
  5. Bisa tanpa gejala somatik atau dengan gejala somatik (mengalami gangguan di bidang fisik, seringkali mengeluh sakit ini dan itu tapi tidak ada penyakit atau menderita penyakit yang tidaksembuh-sembuh, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, diare atau sembelit).

 Depresi Berat tanpa Gejala Psikotik

Pedoman Diagnostik:

  1. Semua tiga gejala utama depresi harus ada.
  2. Ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat.
  3. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi/gelisah atau retardasi psikomotor/lemah tak berdaya) yang mencolok, maka konseli mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
  4. Episode depresi biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya dua minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari dua minggu.
  5. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

 Depresi Berat dengan Gejala Psikotik

Pedoman Diagnostik:

  1. Semua tiga gejala utama depresi harus ada.
  2. Ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat.
  3. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka konseli mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
  4. Episode depresi biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya dua minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari dua minggu.
  5. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
  6. Depresi psikotik ditandai dengan ciri-ciri gangguan jiwa berat seperti tidak dapat membedakan antara realita dan fantasi; kehilangan daya orientasi; seringkali mengalami halusinasi, delusi, waham, inkoherensi, asosiasi yang melonggar dan stupor depresif. Halusinasi (persepsi sensor yang salah, halusinasi dapat bersifat auditori/berhubungan dengan pendengaran biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk juga dapat bersifat visual (penglihatan) atau merasa sesuatu yang sebenarnya sangat lain sifatnya. Misalnya mendengar suara-suara atau melihat sapu sebagai pedang), delusi (keyakinan keliru yang dipegang meskipun ada bukti objektif yang berlawanan dengannya), waham (kayakinan yang keliru mengenai diri sendiri, misalnya penderita merasa dirinya orang sakti, atau merasa dirinya Napoleon), inkoherensi (ketidak sesuaian), asosiasi (hubungan) yang melonggar dan tingkah laku yang aneh; tidak sadar akan apa yang dilakukannya, sehingga tidak dapat dinasehati; tidak sensitif terhadap orang-orang lain dan tuntutan masysarakat sekelilingnya, bahkan kadang-kadang membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang lain; tidak dapat menolong dan mengatur diri sendiri. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor (separuh sadar, membeku tanpa penginderaan).

Depresi berat dengan gejala psikotik merupakan suatu penyakit yang dapat membuat seseorang tidak mampu berfungsi secara normal dalam masyarakat, kehilangan daya sentuh terhadap realita dan bisa berakhir dengan bunuh diri.

D.  Penanggulangan Depresi

1.   Terapi Psikologis

a.   Terapi Kognitif dan Perilaku

Untuk menyesuaikan dengan teori Kognitif tentang depresi, bahwa kesedihan mendalam dan harga diri yang hancur yang dialami para individu yang menderita depresi  disebabkan oleh skema negative dan kesalahan pola negatif, Beck dan para rekannya menyusun terapi Kognitif yang bertujuan untuk mengubah pola negatif Maladaptif. Terapis mencoba mempersiapkan orang yang depresi untuk mengubah pendapatnya tentang berbagai peristiwa  dan tentang dirinya sendiri. Bila seorang klien berkata bahwa ia tidak berharga karena “Tidak ada sesuatu pun yang berjalan dengan benar, semua hal yang saya coba lakukan berakhir menjadi bencana, ”terapis memberikan berbagai contoh yang bertentangan dengan generalisasinya yang berlebihan, seperti menunjukkan kemampuannya yang tidak dilihat atau diabaikan oleh klien sendiri, terapis juga menginstruksikan pada pasien untuk memantau monolog pribadi dan untuk mengidentifikasi semua pola negatif yang berkontribusi terhadap depresi. Terapis kemudian mengajarkan pada pasien untuk memikirkan secara mendalam berbagai keyakinan negative yang salah untuk memahami bagaimana hal tersebut mencegahnya membuat asumsi yang lebih dan realistis dan positif.

b.   Terapi Kognitif Berbasis Pola Pikir

Adaptasi mutakhir terapi kognitif yang disebut terapi kognitif berbasis pola pikir (MBCT) memfokuskan pada pencegahan kekambuhan setelah keberhasilan suatu penanganan depresi. Terapi itu didasari asumsi bahwa kerentanan untuk mengalami kekambuhan dan berulangnya depresi diakibatkan oleh asosiasi yang berulang antara mood depresi  dan pola pikir negatif, menilai rendah diri sendiri, dan putus asa selama berlangsungnya  episode depresi mayor. Akibatnya, individu yang telah sembuh dari depresi mayor mengalami rasa sedih dan ber kecil hati, mereka mulai berpikir dengan cara sama ketika mereka benar-benar dalam kondisi depresi. Pola pikir yang diaktifasi ulang  tersebut pada akhirnya mempertahankan dan memperdalam kondisi depresi ringan. Dengan cara ini, bagi orang-orang yang memiliki riwayat depresi mayor, kondisi depresi mungkin lebih meningkat, yang secara efektif meningkatkan resiko timbulnya kembali episode depresi mayor.[3]

2.   Terapi Biologis

Berbagai variasi terapi Biologis digunakan untuk menangani depresi. Dan jenis terapi yang paling umum adalah terapi kejut elektrikonvulsif dan obat-obatan.

a.   Terapi Elektrokonvulsif

Mungkin penanganan yang paling dramatis dan controversial untuk depresi parah adalah Terapi Elektrokonvulsif (ECT-electroconvulsive therapy). ECT diciptakan oleh dua orang dokter berkebangsaan Italia, Cerletti dan Bini, pada awal abad ke-20 Cerletti tertarik pada epilepsy dan mencari cara untuk dapat menimbulkan kejang epilepsy secara eksperimental. Ia menemukan bahwa dengan memberikan kejutan listrik pada sisi kepala manusia, kejang epileptic dapat terjadi dengan sepenuhnya. Kemudian di Roma pada tahun 1938, ia menggunakan teknik tersebut pada pasien skizofrenia.

Dalam decade-dekade selanjutnya, ECT diberikan kepada pasien yang mengalami skizofrenia sekaligus depresi parah, biasanya dilakukan di rumah sakit. Sebagaian terbesar penggunaannya dewasa ini terbatas pada individu yang mengalami depresi parah. ECT mencakup penciptaan kejang dan ketidaksadaran sementara untuk suatu tujuan dengan mengalirkan arus listrik sebesar 70 dan 130 volts kedalam otak pasien. Elektroda pada awalnya dilekatkan di kedua sisi kening sehingga memungkinkan arus listrik memasuki dua belahan otak, suatu metode yang disebut ECT bilateral. Dewasa ini, ECT unilateral, dimana arus listrik hanya memasuki belahan serebral yang tidak dominan (kanan), lebih umum digunakan. Pada masa lalu, pasien biasanya tetap sadar hingga arus listrik memicu kejang dan kejutan listrik tersebut seringkali menciptakan goncangan-goncangan tubuh yang mengerikan, kadang bahkan menyebabkan keretakan tulang. Dewasa ini, pasien di beri anestesi singkat dan diinjeksi dengan suatu pelemas otot sebelum arus listrik dialirkan. Kejang konvulsif pada otot-otot tubuh hamper tidak dapat dilihat oleh para pengamat, dan pasien kembali sadar beberapa menit kemudian tanpa dapat mengingat apapun tentang penanganan tersebut. Mekanisme cara kerja ECT tidak diketahui. Secara umum ECT mengurangi aktivitas metabolic dan sirkulasi darah ke otak dan sekaligus dapat menghambat beberapa aktivitas otak yang tidak normal.

Menciptakan kejang masih merupakan prosedur drastis. Sebagian besar profesional mengetahui risiko yang ditimbulkan (kebingungan dan kehilangan memori yang dapat berlangsung lama). Meskipun demikian, ECT unilateral  ke belahan otak kanan secara klinis sama efektifnya dengan ECT bilateral dan menimbulkan efek samping negative yang lebih sedikit. Studi pemantauan jangka panjang terhadap para pasien yang ditangani dengan ECT pada masa remaja menunjukkan tidak adanya kerusakan memori yang berlangsung lama. Dalam kasus manapun, para ahli klinis umumnya memilih untuk memberikan ECT hanya bila depresi tidak juga berkurang dan sesudah mencoba berbagai penanganan yang kurang drastis ternyata tidak memadai dalam mempertimbangkan jenis penanganan yang memiliki berbagai efek samping negative, orang yang mengambil keputusan harus menyadari berbagai konsekuensi yang timbul jika tidak memberikan penanganan sama sekali mengingat bunuh diri merupakan kemungkinan nyata di kalangan orang-orang yang mengalami depresi dan mengingat nilai moral yang menghargai dipertahankannya nyawa seseorang, maka penggunaan ECT paling tidak setelah berbagai penanganan lain gagal, dinilai oleh banyak ahli sesuatu yang pantas diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan.[4]

b.   Terapi Obat

Obat-obatan merupakan penanganan yang paling umum digunakan untuk gangguan mood. Meskipun demikian, obat-obatan tidak berhasil bagi semua orang dan berbagai efek sampingnya kadang serius. Berikut ini tiga kategori utama obat-obatan antidepresan:

1)      Trisiklik, seperti imipramin (Tofranil) dan amitriptilin (Elavil)

2)      penghambat pengembalian serotonin selektif (SSRI-Selective serotonin inhibitors), seperti fluoksetin (Prozac) dan sertralin (Zoloft)

3)      penghambat monoamine oksidase (MAO), seperti tranilsipromin (Parnate)

Obat-obat tersebut telah dinyatakan efektif dalam sejumlah studi, dengan tingkat perbaikan antara 50-70% pada pasien yang menjalani terapi hingga selesai. Meskipun pada awalnya diindikasikan bahwaSSRIsecara klinis lebih efektif dari trisiklik atau penghambat MAO, namun dewasa ini diketahui bahwa efektivitas klinis ketiga kelompok obat tersebut kurang lebih sama. Meskipun demikian, memang memiliki kelebihan karena memberikan efek samping yang lebih ringan, dan dewasa ini obat-obatan dalam kelompok ini paling sering diresepkan. Penghambat MAO sejauh ini memiliki efek samping yang paling besar sehingga palin jarang digunakan.

Meskipun berbagai macam antidepresan mempercepat kesembuhan pasien dari suatu episode depresi, kekambuhan masih umum terjadi setelah pemberian obat-obatan tersebut dihentikan. Mengkonsumsi imipramin terus menerus setelah sembuh bermanfaat untuk mencegah kekambuhan bila dosis yang dberikan untuk mempertahankan kesembuhan tersebut sama tingginya dengan dosis efektif selama penanganan (bukannya lebih rendah, seperti yang biasanya terjadi) dan selama menjalani terapi obat pasien dilibatkan dalam suatu penanganan psikologis.

Meskipun suatu bahan kimia dapat menghentikan suatu episode depresi hanya untuk sementara waktu, manfaat bahan kimia itu sendiri tidak boleh diremehkan mengingat potensi bunuh diri dalam depresi dan mengingat siksaan serta penderitaan luar biasa yang dirasakan penderita depresi dan keluarganya. Penggunaan obat secara hati-hati dapat membuat jenis intervensi dan kontrol yang dinilai banyak orang sebagai jalan terakhir, yaitu dirawat dirumah sakit mental, menjadi tidak diperlukan.[5]


[2] Sttsaintpaul.blogspot.com/2009/12/mengenaligejaladepresidancarapenanganannya.

[3] Gerald C. Davision,dkk., Psikologi Abnormal, (PT. Raja Grafindo Persada:Jakarta, 2004), hal. 340-342

[4]Ibid, hal. 412-413

[5]Ibid, hal. 414-415

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s