Psikologi Perkembangan Kognitif

Posted: Juli 22, 2011 in Uncategorized

A. Pengertian Kognitif

Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah  pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa.[1]

Neisser (1967) dalam Morgan, et al. (1986), mendefinisikan kognisi sebagai proses berpikir di mana informasi dari pancaindera ditransformasi, direduksi, dielaborasi, diperbaiki, dan digunakan.

Secara ringkas, Morgan, dkk.. (1986) menyatakan bahwa kognisi sebagai pemrosesan informasi tentang lingkungan yang dipersepsikan melalui pancaindera. Menurut Santrock (1986), kognisi mengacu kepada aktivitas mental tentang bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, disimpan dan ditransformasi, serta dipanggil kembali dan digunakan dalam aktivitas kompleks seperti berpikir.[2]

Terdapat definisi lain yang hampir sama dengan pengertian yang dijelaskan di atas, dapat dipahami dari pengertian psikologi kognitif yaitu berkaitan dengan bagaimana kita memperoleh informasi mengenai dunia, bagaimana informasi tersebut dipresentasikan dan ditransformasikan sebagai pengetahuan, bagaimana informasi disimpan dan bagaimana pula pengetahuan tersebut digunakan untuk mengarahkan perhatian dan perilaku organisme.[3]

 

B. Perkembangan Kognitif dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya

Perkembangan kognitif meliputi perubahan kualitatif maupun kuantitatif. Mayoritas psikologi kognitif sepakat bahwa perubahan perkembangan hasil interaksi antara kematangan (nature) dan belajar (nurture). Namun ada pula psikologi kognitif lain yang lebih menekankan peran kematangan, yaitu perubahan yang relatif permanen dalam berperilaku atau berpikir yang terjadi semata-mata sebagai hasil proses bertambahnya usia, tanpa dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman tertentu, sedangkan yang lain lebih mengutamakan pentingnya belajar yaitu perubahan yang relatif permanen dalam proses berpikir sebagai hasil dari pengalaman.

Pengaruh interaksi antar nature dan nurture telah dimulai sejak masa bayi. Bayi yang nasih sangat kecil tampaknya memiliki kecenderungan bawaan untuk memperhatikan stimulus yang bersifat cukup baru, stimuli yang sudah dikenal atau stimuli yang benar-benar baru tidak menarik bagi bayi. Lingkungan yang menyediakan stimuli yang cukup baru dikatakan dapat membantu bayi untuk mengekspresikan minat bawaan mereka.

Secara ringkas, Piaget berteori bahwa selama perkembangannya, manusia mengalami perubahan-perubahan dalam struktur berfikir, yaitu semakin terorganisasi, dan suatu struktur berpikir yang dicapai selalu dibangun pada struktur dari tahap sebelumnya.

Pengalaman membawa kemajuan kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi dan akomodasi membantu anak-anak beradaptasi terhadap lingkungannya karena melalui proses-proses tersebut pemahaman mereka mengenai dunia semakin dalam dan luas. Piaget yakin bahwa perkembangan terjadi dalam tahap-tahap yang meningkat melalui equibilibrasi dimana anak mencari suatu keseimbangan (equibilibrium) antara apa yang mereka hadapi di lingkungan dan bagaiman struktur dan proses kognitif yang mereka gunakan untuk menghadapinya, serta kapabilitas kognitif yang mereka miliki.

Equibilibrasi meliputi 3 proses, pertama dalam situasi tertentu pikiran dan skema kerangka mental yang telah ada dalam pikiran anak masih memadai untuk melawan dan meghadapi tantangan lingkungan, jadi anak berada dalam kondisi EQUILIBRIUM, kedua ketika anak memperoleh informasi yang tidak sesuai dengan skema yang dimilikinya akan terjadi

DISEQUILIBRIUM/ketidakseimbangan, ketiga sebagai akibatnya anak berusaha untuk mengembalikan kondisi equilibrium melalui ASIMILASI, yaitu menggabungkan informasi baru ke dalam skema yang telah dimilikinya, modifikasi skema juga bias dilakukan melalui AKOMODASI yaitu mengubah skema yang telah ada untuk menyesuaikannya dengan informasi baru yang relevan dengan lingkungan. Proses tersebut menghasilkan kondisi equilibrium sehingga menawarkan kepada individu tingkat kemampuan beradaptasi yang lebih tinggi.[4] Dengan demikian, jelas bahwa Piaget memandang anak-anak sebagai organisme aktif dan self-regulating yang berubah melalui interaksi antara pembawaan lahir (innate) dengan faktor-faktor lingkungan (Hetherington; Parke, 1986;Seifert; Hoffnung, 1987; Papalia; Olds, 1988;Miller, 1993).

Menurut Piaget perkembangan kognitif yang terjadi melalui tahap-tahap tersebut disebabkan oleh empat faktor:

  1. Kematangan fisik,
  2. Pengalaman dengan objek-objek fisik,
  3. Pengalaman sosial, dan
  4. Ekuilibrasi.

 

C. Tahapan-tahapan dalam Perkembangan Kognitif

Piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi empat yang masing-masing berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda.  Tahapan-tahapan tersebut adalah :

1.    Tahap sensorimotor (lahir-2 tahun)

Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fundasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence. Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18 – 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.

Selain itu, dalam tahap ini pemahaman tentang dunia atau pengalaman diperoleh anak dengan mengorganisasikan pengalaman sensori koordinasi alat indera mereka dengan gerakan otot mereka. Pada tahap ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Karena bayi lahir dengan refleks bawaan kemudian seiring dengan pertumbuhan mereka skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Ketika bayi, anak-anak tidak dapat membedakan antara dirinya dan dunianya serta tidak memiliki pemahaman tentang kepermanenan objek. Menjelang akhir periode sensorimotor, anak mulai bisa membedakan antara dirinya dan dunia sekitarnya dan menyadari bahwa objek tersebut ada dari waktu ke waktu.

Tahap sensorimotor ini terbagi atas beberapa sub-tahapan yaitu :

  1. Sub-tahapan skema refleks (lahir-1bulan), Piaget menggunakan istilah skema dalam membicarakan tindakan bayi. sebuah skema bisa menjadi pola tindakan apa pun untuk menghadapi lingkungan seperti menatap, menggenggam, memukul atau menendang. Meskipun bayi mengkonstruksi skema-skema mereka dan kemudian menstrukturkannya lewat aktivitas-aktivitas mereka sendiri, skema-skema pertama mereka utamanya terdiri atas refleks-refleks bawaan.. Refleks-refleks mengimplikasikan kepasifan tertentu. Organisme akan tetap tidak aktif sampai sesuatu datang menstimulasikannya.[5]
  2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer (1-4 bulan), reksi sirkuler terjadi ketika bayi menghadapi sebuah pengalaman baru dan berusaha mengulanginya. Kebanyakan reaksi ini melibatkan pengorganisasian dua tindakan atau gerakan tubuh yang sebelumnya terpisah. Reaksi sirkuler ini menyediakan ilustrasi yang baik tentang yang dimaksudkan Piaget dengan perkembangan intelektual sebagai proses konstruksi. Bayi secara aktif melakukan secara bersama-sama gerakan dan skema tindakan yang berbeda-beda. Sangat penting untuk menekankan jumlah kerja yang bisa mereka lakukan, bayi-bayi berusaha mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang terpisah hanya setelah mengulang banyak kegagalan.[6]
  3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder (4-10 bulan), reaksi ini melibatkan koordinasi bagian-bagian tubuh bayi sendiri. Reaksi sirkuler sekunder terjadi ketika bayi menemukan dan menghasilkan kembali peristiwa menarik di luar dirinya. Piaget kadang-kadang menyebut reaksi ini sebagai “membuat pemandangan yang menarik bertahan lama”. Dia berspekulasi bahwa bayi tersenyum dan tertawa saat melihat peristiwa yang cukup lucu baginya. Pada waktu yang sama, tampaknya mereka tengah menikmati kekuatan mereka sendiri, yaitu kemampuan untuk membuat suatu peristiwa terjadi berulang-ulang.
  4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder (10-12 bulan), pada sub-tahap ini bayi belajar untuk mengkoordinasikan dua skema terpisah demi mendapatkan satu hasil. Pencapaian baru ini paling tampak ketika bayi berhadapan dengan rintangan-rintangan
  5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier (12-18 bulan), pada sub-subtahap ini bayi bereksperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda-beda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. Sebagai contoh, suatu hari Laurent menjadi tertarik dengan meja yang baru dibeli ayahnya. Dia memukulnya dengan telapak tangannya beberapa kali, kadang-kadang keras, kadang-kadang lembut, untuk mendengar perbedaan bunyi yang dihasilkan oleh tindakannya itu.[7]
  6. Sub-tahapan awal representasi simbolik/ permulaan berpikir (18 bulan-bulan2 tahun), pada sub-tahap ini anak-anak kelihatannya mulai memikirkan situasi secara lebih internal, sebelum akhirnya bertindak. Kemajuan anak-anak di sub-tahap 6 ini bisa juga dilihat sebagai upaya untuk berimitasi. Piaget mengamati bahwa untuk beberapa saat, anak-anak tidak bisa mengimitasi model-model baru sama sekali, mereka hanya bisa memproduksi tindakan-tindakan yang sudah ada dalam daftar tingkah laku mereka.

2. Tahap praoperasional (usia 2-7 tahun)

Pada tahap ini anak mulai aktif mengembangkan reprenstasi mental internal yang telah diawali di akhir aktif mengembangkan representasi mental internal yang telah diawali di akhir tahap sensorimotor. Menurut Piaget, kemampuan berpikir representasional pada tahap ini membuka jalan bagi perkembangan pemikiran logis ditahap berikutnya, yaitu operasional kongkret. Pada tahap ini anak juga mulai mampu berkomunikasi secara verbal, walaupun komunikasi anak bersifat egosentris, sehingga percakapan yang dilakukan anak mungkin saja sama sekali tidak koheren.

Selain itu, pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

Tahap ini merupakan tahap pemikiran yang lebih simbolis tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap ini dibagi atas dua sub-tahapan yaitu :

  1. sub-tahap fungsi simbolis yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun. Dalam tahap ini anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek yang tak hadir dengan gambaran dan kata-kata tetapi pemikirannya masih bersifat egosentris dan animisme. Hal ini memperluas dunia mental mereka hingga mencakup dimensi-dimensi baru. Egosentris adalah keadaan dimana anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain sedangkan animisme adalah kepercayaan bahwa objek tak bernyawa adalah hidup dan bisa bergerak.
  2. sub-tahap pemikiran intuitif , yang terjadi antara usia 4-7 tahun. Piaget menyebut tahap ini sebagai tahap yang intuitif karena anak-anak merasa yakin tentang pemahaman mereka mengenai suatu hal tetepi tanpa menggunakan pemikiran rasional. Anak-anak dapat mengklasifikasikan objek hanya menggunakan satu ciri saja, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Pada tahap ini anak juga mulai banyak mengajukan pertanyaan dan ingin tahu semua jawaban dari pertanyaan tersebut.

3. Tahap operasional konkrit (usia 7-11tahun)

Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.

Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objek tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak.

Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

  • Pengurutan. Kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
  • Klasifikasi. Kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
  • Decentering. Anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
  • Reversibility. Anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
  • Konservasi memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
  • Penghilangan sifat Egosentrisme. Kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

 1.      Tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Pada tahap ini diperoleh kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Para remaja ini mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau saat peristiwanya berlangsung sehingga dapat memecahkan permasalahan yang sifatnya verbal. Selain itu pada proses ini terdapat kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan atau spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan orang lain. Mereka juga mulai berpikir menyerupai ilmuwan. Mereka menyusun rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis munguji solusi-solusi manakah yang dapat berhasil.[8]

Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu :

  • Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
  • Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.

Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies, Jones dan Conrad (Loree dalam Abin Syamsuddin M, 2001) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja, setelah itu kepesatannya berangsur menurun.

Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun, dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun.

 

 

 

 

 

 

 


[1] valmband.multiply.com

[3] Suryani, Psikologi Kognitif, (Surabaya: Dakwah Digital Press, 2007), hlm.1

[4] Ibid., hlm.179

[5] William Crain, Teori Perkembangan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2007), hlm. 173-174

[6] Ibid., hlm. 175

[7] Ibid., hlm. 177-178

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s