Lingkungan Pendidikan Sekolah

Posted: Maret 16, 2012 in Uncategorized

Image

  • Pengertian Lingkungan Sekolah

Dalam arti yang luas lingkungan mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam. Dengan kata lain lingkungan ialah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang, ia adalah seluruh yang ada,  baik manusia maupun benda buatan manusia atau alam yang bergerak atau tidak bergerak, kejadian-kejadian atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan seseorang.[1]

Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Untuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran di atas.

Adapun secara istilah Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau “murid“) di bawah pengawasan guru. Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat diartikan segala sesuatu yang tampak dan terdapat di sekolah, baik itu alam sekitar maupun setiap individu yang berada di dalamnya. Mengenai masalah ini, terdapat ayat al-Quran yang berbunyi :

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ

Artinya: Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.(QS an-Nur 36)

رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ

Artinya:  Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak oleh jual beli dari mengingati Allah, dan mendirikan sembahyang, dan membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS an-Nur 37)

 Maksud dari kata buyut ialah rumah-rumah ibadah, seperti masjid yang telah diizinkan atau diperbolehkan dan diperintahkan di dalamnya untuk selalu menyebut atau berdzikir akan namaNya yang agung sepanjang waktu. Dalam hadis juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Tidaklah berkumpul sejumlah orang dalam salah satu rumah Allah untuk membaca al-Quran dan mempelajarinya antar mereka, kecuali turun atas mereka sakinah/ketenangan, rahmatpun meliputi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di sisiNya (HR. Muslim melalui Abu Hurairah)[2]

Tuhan menunjukkan dimana tempat penggosokan intan jiwa, ialah dirumah-rumah suci tempat menyembah Allah, di masjid tempat menjunjung tinggi namaNya dan mengingatNya, baik dengan hati ataupun dengan lidah. Bersembahyang, bertasbih menjunjung tinggi kesucianNya di waktu pagi dan di petang hari. Pada waktu melatih jiwa mendekati Tuhan dengan melakukan shalat itu, bebaskan jiwa dan lepaskan diri dari pengaruh benda, pangkat kebesaran dan kekayaan, jual beli dan untung rugi demikian tersebut dalam ayat 37. Sehingga walaupun berniaga berjual beli, dia laksanakan hanyalah karena termasuk dzikir kepada Allah, karena Tuhan yang memerintahkan.[3]

Pada ayat berikutnya juga digambarkan bahwa di dalam rumah Allah tersebut terdapat Rijal (baik lelaki maupun perempuan) yang memiliki keteguhan hati sehingga mereka tidak lalai dan lengah dari menunaikan hak Allah dalam shalat, dan dari menunaikan hak para hamba dalam zakat.

Telah jelas akan ayat dan hadis diatas bahwa lingkungan sekolah yang bisa kita umpamakan rumah Allah atau masjid pada zaman itu yaitu suatu tempat yang di dalamnya selalu digaungkan dengan untaian-untaian dzikir kepada Allah Swt, dan disana pula terdapat sekelompok orang yang tak pernah lalai akan kewajibannya sebagai hamba Allah Swt

  • Sekolah sebagai Lingkungan Pendidikan

Di sekolah yang disana tempat berkumpulnya anak-anak yang memiliki umur yang sebaya dan wawasan pengetahuan yang relatif sederajat sekaligus menerima pengajaran yang sama sehingga mereka akan memasuki dan merasakan sebuah lingkungan yang berbeda sekali dengan lingkungan keluarga atau rumah yang pernah mereka rasakan. Adapun yang membedakan lingkungan keluarga dengan lingkungan sekolah antara lain :

1)        Suasana

Rumah adalah tempat anak-anak itu lahir dan kelahirannya juga disambut dengan sukacita. Kemudian setelah itu mereka diasuh oleh kedua orang tua mereka dengan penuh kasih sayang. Sedangkan di sekolah mereka akan menghadapi guru yang tak mereka kenal dan kasih sayang guru juga tak sedalam kasih sayang kedua orangnya.

2)        Tanggung jawab

Di rumah, dikarenakan ayah dan ibu sebagai orang tua kandung anak-anak mereka, maka sudah barang tentu orang tua tersebut memiliki perhatian yang lebih terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak-anaknya. Sebaliknya di sekolah guru yang seharusnya memiliki kewajiban untuk mendidik peserta didiknya, sebagian besar guru merasa telah memenuhi kewajibannya ketika hanya berhasil menaikkan atau meluluskan peserta didiknya.

3)        Kebebasan

Ketika di rumah anak memiliki kebebasan yang lebih dalam gerak-geriknya, ia bebas makan ketika lapar, atau tidur ketika ngantuk. Sedangkan di sekolah kebebasan semacam itu tak bisa di dapatkannya karena di sana ada aturan-aturan yang harus dipatuhi.

4)        Pergaulan

Pergaulan di rumah senantiasa diliputi suasana kasih sayang, saling mengerti dan saling bantu membantu, meskipun terkadang terdapat pertikaian antara kakak dan adik, tetapi di luar rumah pasti kakak senantiasa melindungi adiknya. Di sekolah pergaulan antar murid acapkali lebih “lues” (zakelijk). Mereka harus menghargai hak dan kepentinagn masing-masing.

Hal-hal diatas, menunjukkan perbedaan yang asasi antara rumah dengan sekolah. Rumah ialah lingkungan pendidikan yang sewajarnya. Pemeliharaan orang tua terhadap anak bukan diperoleh dari suatu pengalaman, melainkan adalah sifat yang naluriyah. Sekolah yang dibuat sendiri oleh manusia, karena semakin tinggi tingkat kebudayaan, maka tuntutan masyarakat bertambah tinggi pula. Lingkungan rumah tak lagi mampu mendidik anak dengan maksimal. Dengan demikian masyarakat mendirikan sekolah-sekolah, yang disana dilaksanakan pendidikan untuk anak disertai peraturan-peraturan tertentu.[4]

  • Fungsi dan Peranan Sekolah

Mengenyam pendidikan pada institusi pendidikan formal yang diakui oleh lembaga pendidikan negara adalah sesuatu yang wajib dilakukan di Indonesia. Mulai dari anak tukang sapu jalan, anak tukang batu, anak tukang jambret, anak pak tani, anak bisnismen, anak pejabat tinggi negara, dan sebagainya harus bersekolah minimal selama 9 tahun lamanya hingga lulus SMP.

Mungkin banyak dari kita yang mempertanyakan apakah sebenarnya fungsi pendidikan formal tersebut. ini akan membantu memberikan sedikit jawaban sesuai dengan kondisi yang ada. Kenapa kita harus sekolah dan mengapa semakin tinggi jenjang pendidikan kita maka semakin baik?

Manfaat dan Fungsi Belajar di Sekolah dan di Perguruan Tinggi :

  • Ø Melatih Kemampuan Akademis Anak (Biar Pintar).

Dengan melatih serta mengasah kemampuan menghafal, menganalisa, memecahkan masalah, logika, dan lain sebagainya maka diharapkan seseorang akan memiliki kemampuan akademis yang baik. Orang yang tidak sekolah biasanya tidak memiliki kemampuan akademis yang baik sehingga dapat dibedakan dengan orang yang bersekolah. Kehidupan yang ada di masa depan tidaklah semudah dan seindah saat ini karena dibutuhkan perjuangan dan kerja keras serta banyak ilmu pengetahuan.

  • Ø Menggembleng dan Memperkuat Mental, Fisik dan Disiplin.

Dengan mengharuskan seorang siswa atau mahasiswa datang dan pulang sesuai dengan aturan yang berlaku maka secara tidak langsung dapat meningkatkan kedisiplinan seseorang. Dengan begitu padatnya jadwal sekolah yang memaksa seorang siswa untuk belajar secara terus-menerus akan menguatkan mental dan fisik seseorang menjadi lebih baik.

  • Ø Memperkenalkan Tanggung Jawab.

Tanggung jawab seorang anak adalah belajar di mana orangtua atau wali yang memberi nafkah. Seorang anak yang menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dengan bersekolah yang rajin akan membuat bangga orang tua, guru, saudara, famili, dan lain-lain.

  • Ø Membangun Jiwa Sosial dan Jaringan Pertemanan.

Banyaknya teman yang bersekolah bersama akan memperluas hubungan sosial seorang siswa. Tidak menutup kemungkinan di masa depan akan membentuk jaringan bisnis dengan sesama teman di mana di antara sesamanya sudah saling kenal dan percaya. Dengan memiliki teman maka kebutuhan sosial yang merupakan kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi dengan baik.

  • Ø Sebagai Identitas Diri.

Lulus dari sebuah institusi pendidikan biasanya akan menerima suatu sertifikat atau ijazah khusus yang mengakui bahwa kita adalah orang yang terpelajar, memiliki kualitas yang baik dan dapat diandalkan. Jika disandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan dalam suatu lowongan pekerjaan kantor, maka rata-rata yang terpelajarlah yang akan mendapatkan pekerjaan tersebut

  • Ø Sarana Mengembangkan Diri dan Berkreativitas.

Seorang siswa dapat mengikuti berbagai program ekstrakurikuler sebagai pelengkap kegiatan akademis belajar mengajar agar dapat mengembangkan bakat dan minat dalam diri seseorang. Semakin banyak memiliki keahlian dan daya kreativitas maka akan semakin baik pula kualitas seseorang. Sekolah dan kuliah hanyalah sebagai suatu mediator atau perangkat pengembangan diri. Yang mengubah diri seseorang adalah hanyalah orang itu sendiri.[5]

Berkenaan dengan ini, Prof. Dr. Ahmad Sjalabi dalam bukunya Sejarah pendidikan Islam, menjelaskan antara lain :[6]

            “Sejarah Pendidikan Islam amat erat pertaliannya dengan masjid, karena itu apabila kita membicarakan masjid adalah berarti bahwa kita membicarakan suatu lembaga yang dipandang sebagai tempat yang asasi untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Lingkaran-lingkaran pelajaran telah diadakan di masjid semenjak masjid didirikan dan keadaan kini berjalan terus sepanjang tahun dengan tidak putus-putusnya di seluruh negeri Islam.”

            Fungsi masjid menurut faham kaum muslimin di masa-masa permulaan Islam adalah amat luas. Mereka telah menjadikan masjid untuk tempat beribadat, memberi pelajaran, tempat peradilan, tentara berkumpul, dan menerima duta-duta dari luar negeri. Di antara yang mendorong mereka untuk mendirikan masjid ialah keyakinan bahwa rumah mereka tak cukup luas untuk beribadat bersama dan mengadakan suatu majelis. Hal ini sejalan dengan ayat al-Quran :

لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa , sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS at-Taubah 108)

                        Berikut ini hadis juga dijelaskan tentang fadhilah memfungsikan  masjid sebagai tempat untuk mendirikan majelis-majelis keilmuan :

حدثنا عبد الله بن محمد بن إسحاق الخزاعي ، ثنا أبو يحيى عبد الله بن أحمد بن زكريا بن أبي مسرة ، ثنا عبد الله بن يزيد المقرئ ، ثنا حيوة بن شريح ، أخبرني أبو صخر ، أن سعيد المقبري ، أخبره أنه سمع أبا هريرة ، يقول : إنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول : مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْراً أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ دَخَلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ.[7]

Artinya:

“Barang siapa memasuki masjid ini untuk menuntut ilmu tentang kebaikan atau mengajarkannya, sesungguhnya dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah, dan barang siapa yang memasuki masjid tanpa melakukan itu semua, sesungguhnya itu seperti melihat pada apa yang bukan miliknya”

Kriteria Sekolah Yang Ideal Perspektif Islam

  • Memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas.

Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan realistis. Pernyataan visi, misi dan tujuan ini dapat dipotret dari beberapa aspek, antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Visi, misi, dan tujuan sekolah tersebut diharapkan bisa mewujudkan harapan orang tua kepada anak setelah bersekolah di situ.

  • Fasilitasnya memadai

Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan prasarana yang mendukung. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik, diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman, dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak, sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa dengan luas ruangan kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain.

  • Profil pendidik yang berkualitas

Pada proses pendidikan, peran pendidik sangatlah besar dan strategis sehingga corak dan kualitas pendidikan secara umum dapat diukur dengan mellihat kualitas para pendidiknya. Pendidik yang memiliki kualifikasi tinggi dapat menciptakan dan mendesain materi pendidikan yang lebih dinamis dan konstruktif. Mereka juga akan mampu mengatasi kelemahan materi dan subjek didiknya dengan menciptakan suatu lingkungan yang kondusif dan menciptakan strategi yang aktif dan dinamis.

Dengan adanya pendidik yang berkualitas tinggi, maka kompetensi lulusan (output) pendidikan akan dapat dijamin sehingga mereka mampu mengelola potensi diri dan mengembangkannya secara mandiri untuk menatap masa depan gemilang yang sehat dan prosprektif.

  • Adanya harmonisasi antara pendidikan umum dan agama.

Setiap terjadi kasus-kasus yang berhubungan dengan dekadensi moral di masyarakat, maka semua pihak akan segera menoleh pada sekolah dan seakan menuduhnya tidak becus dalam mendidik anak bangsa. Akhirnya tuduhan tersebut terfokus pada pendidik yang dianggap alpha dan tidak profesional dalam menjaga gawang moralitas bangsa, tuduhan juga difokuskan pada materi pendidikan yang cenderung cognitif oriented sehingga pendidikan hanya dapat menghasilkan anak didik yang memiliki intelektualitas tinggi tapi miskin akan nilai-nilai moral.

Sekolah pun mulai merespon fenomena tersebut dengan memasukan dan mengharmonisasikan pendidikan umum dan pendidikan agama secara seimbang-seirama dengan harapan dapat mengatasi berbagai dekadensi moral yang terjadi di masyarakat, sehingga muncullah seperti SD Islam Terpadu, SMP Islam Terpadu, SMA Islam Terpadu dan lain sebagainya. Dengan harmonisasi tersebut juga diharapkan tidak terjadi lagi dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Hadis Nabi yang menyuruh umat muslim untuk mencari ilmu sampai ke negeri Cina mengandung spirit bagi umat muslim untuk tidak hanya mempelajari ilmu agama saja di Madinah tapi juga untuk mempelajari teknologi di negeri Cina, sebuah negeri yang memang pada saat itu sudah menjadi negeri yang berperadaban tinggi.

  • Ketertiban dan kebersihan sekolah yang baik.

Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran. Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh, penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu dan kurang optimal hasilnya. singkatnya siswa di sekolah harus merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri (feels like second home).


[1] Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) , 63

[2] Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah (surah an-Nuur), (Ciputat : Lentera Hati, 2002) ,  558.

[3]Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XVIII, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988), 199.

[4] Zakiah, Ilmu, 73

[6] Achmad Sjalabi,  Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987) 93-94

[7] Maktabah Syamilah, Al-Mustadlrak ‘Alas-shahihaini Lil-Hakim Juz I, 300.

Komentar
  1. ahmad rido hrp mengatakan:

    “jgn lupa buat kosa katanya, penjelasan hadist dan kesimpulan hadist” thank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s