Pengembangan Kurikulum

Posted: Maret 17, 2012 in Uncategorized

Dalam proses belajar mengajar di dalam kelas dan pada suatu mata pelajaran tertentu pasti mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Pencapaian tersebut dapat dicapai dengan merumuskan indikator yang baik.

Rumusan indikator yang baik (bagus) tak lepas dari standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dalam sistem kurikulum KTSP sekolah mempunyai hak untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan pada standar yang ditentukan oleh kementrian pendidikan nasional (MENDIKNAS), tidak hanya itu sekolah juga mempunyai hak mengembangkan kurikulum dari muatan lokal.

Kurikulum akan tercapai dengan baik jika perumusan silabus dan RPP berjalan dengan baik. Pencapaian RPP dan silabus terletak pada standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sedangkan pencapaian kompetensi dasar dan standar kompetensi terdapat pada indikator.

Oleh karena itu, merumuskan indikator merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di kelas, jika dalam suatu pembelajaran indikator belum tercapai maka bisa dianggap pembelajaran tersebut gagal.

Dalam makalah kami mencoba untuk mengulas bagaiman cara untuk mengembangkan indikator.

Pengertian Indikator

Indikator adalah perilaku yang dapat diukur dan atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan  penilaian mata pelajaran.[1]

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

  • Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;
  • Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
  • Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/daerah.

Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu: (1) indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan (2) indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikator soal.

Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.[2]

Fungsi Indikator

Adapun fungsi indikator adalah:

1.    Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran

Pengembangan materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.

2.    Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran

Desain pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry.

3.    Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar

Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.

4.    Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar

Indikator menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar. Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.[3]

Kegunaan Perumusan Indikator

Perumusan tujuan (indikator) perlu karena:

  1. Indikator merupakan penjabaran lebih rinci dari tujuan yang lebih besar (kompetensi dasar/KD), sehingga bila indikator tercapai kemungkinan akan tercapainya KD akan lebih besar pula.
  2. Membantu siswa, guru,  dan evaluator memahami dengan jelas apa-apa yang diharapkan sebagai hasil suatu kegiatan pembelajaran.
  3. Membantu siswa, sebab dengan adanya indikator ini siswa dapat mengatur waktu, energi, dan pemusatan perhatiannya pada tujuan yang akan dicapai
  4. Membantu guru, sebab dengan adanya tujuan ini akan dapat mengatur kegiatan pembelajarannya, metodenya, strateginya untuk mencapai tujuan tersebut
  5. Evaluator, sebab dengan adanya tujuan ini evaluator dapat menyusun tes sesuai dengan apa yang harus dicapai siswa
  6. Indikator merupakan kerangka dari pembelajaran yang guru laksanakan
  7. Indikator merupakan penanda tingkah laku yang harus diperlihatkan siswa seusai kegiatan pembelajaran

Komponen Indikator

Indikator harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar ia dapat mengembangkan tes yang benar-benar dapat mengukur perilaku yang terdapat  di dalamnya.

Ada 4 unsur:

  • Audience yaitu orang yang belajar.
  • Behavior yaitu perilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh orang yang belajar setelah selesai proses belajarnya dalam pelajaran tersebut. Perilaku ini terdiri dari 2 bagian penting, yaitu: kata kerja dan objek hasil belajar. Komponen ini merupakan tulang punggung dari rumusan tujuan.
  • Condition yaitu kondisi batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan siswa pada saat ia dites, bukan saat ia belajar. Misalnya:
  1. Diberikan berbagai rumus…;
  2. Dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan
  3. Dengan diberikan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia/Inggris/Arab…
  4. Diberikan kesempatan 3 kali percobaan…;

Komponen C ini dalam setiap tujuan (indikator) merupakan unsur penting dalam menyusun  tes.

  • Degree yaitu tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai perilaku. Ditunjukkan dengan batas minimal dari penampilan suatu perilaku yang dianggap diterima.

Contoh:

  1. paling sedikit 80% benar
  2. minimal 90% benar
  3. dalam waktu paling lambat 2 minggu
  4. minimal sejauh 3 meter
  5. minimal setinggi 160 cm

 

Mekanisme Pengembangan Indikator

Menganalisis Tingkat Kompetensi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut.Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD.

Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan.

Berikut disajikan kata-kata operasional yang dapat digunakan untuk indikator kompetensi, baik yang menyangkut kognitif, afektif maupun psikomotorik.[4]

Kata – Kata Operasional Yang Dijabarkan Dalam Membuat Indicator

Kognitif Meliputi ;

1)      Knowledge (pengetahuan) yaitu, menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, memberi nama, member leber, dan melukiskan.

2)      Comprehension (pemahaman) yaitu, menerjemakan, mengubah, menggeneralisasikan, menguraikan, menuliskan kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan pendapat, dan menjelaskan.

3)      Application (penerapan ) yaitu, mengoperasikan , menghasilkan mengatasi, mengubah, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.

4)      Analysis (analisis) yaitu, menguraiakan, membagi – bagi, memilih dan membedakan.

5)      Syntnesis (sintesis) yaitu, merancang merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukan, dan merencanakan.

6)      Evaluation(evaluasi) yaitu, mengkritisi, menafsirkan dan memberikan evaluasi.

Efektif Meliputi;

1)      Receiving (penerimaan) yaitu mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya, dan mengalokasikan.

2)      Responing (menanggapi) yaitu konfirmasi, menjawab, membaca, membantu, melaksanakan, melaporkan dan menampilkan.

3)      Valuing (penamaan nilai) yaitu, menginisiasi, mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan.

4)      Organigastion (pengorganisasian) yaitu, menverivikasi, menyusun, menyatukan, menghubungkan, dan mempengaruhi.

5)      Characterization (karakterisasi) yaitu menggunakan nilai – nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan nilai – nilai yang sudah diyakini.

Psikomotorik Atau Gerak Jiwa Meliputi;

1)      Observing (pengamatan) yaitu mengamati proses, memberi perhatian pada tahap – tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada sebuah artikulasi .

2)      Initation (peniruan) yaitu mlatih, mengubah, membongkar sebuah struktur, membangun kembali sebuah struktur dan menggunakan sebuah model.

3)      Practicing (pembiasaan) yaitu membiasakan prilaku yang sudah dibentuknya, mengontrol kebiasaan agar tetap konsistem.

4)     Adapting (penyesuaian) yaitu menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan model.

Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah

Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian.Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut:

Kelompok Mata Pelajaran

Mata pelajaran

Aspek yang Dinilai

Agama dan Akhlak Mulia

Pendidikan Agama

Afektif dan Kognitif

Kewarganegaraan dan Kepribadian

Pendidikan Kewarganegaraan

Afektif dan Kognitif

Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Penjas Orkes

Orkes  Psikomotorik, Afektif, danKognitif

Estetika

Seni Budaya

Afektif dan Psikomotorik

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Matematika, IPA, IPS Bahasa, dan TIK

Afektif, Kognitif, dan/atau Psikomotorik sesuai karakter mata pelajaran

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari mata pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari aspek mendengar, membaca, berbicara dan menulis sangat berbeda dengan mata pelajaran matematika yang dominan pada aspek analisis logis.Guru harus melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik mata pelajaran sebagai acuan mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai tujuan, ruang lingkup dan SK serta KD masing-masing mata pelajaran.

Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar. Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut

Karakteristik sekolah dan daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk sekolah bertaraf internasional dapat mengembangkan indikator dari SK dan KD dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar internasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi pertimbangan dalam mengembangkan indikator.[5]

Menganalisis Kebutuhan dan Potensi

Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.

Merumuskan Indikator

Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagaiberikut:

  1. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator.
  2. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.
  3. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
  4. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.
  5. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
  6. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.

Mengembangkan Indikator Penilaian

Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian.

Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.

Pengembangan indikator dapat menggunakan format seperti contoh berikut.

Kompetensi Dasar/Indikator

Indikator Penilaian

Bentuk

Mendeskripsikan perkembangan teori atom

  • Mendeskripsikan karakteristik teori atom Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan mekanika kuantum
  • Menghitung perubahan energi elektron yang mengalami eksitasi
  • Menghitung panjang gelombang terbesar dan terkecil pada deret Lyman, Balmer, dan Paschen pada spectrum atom hidrogen
    • Siswa dapat memvisualisasikan bentuk atom Thomson, Rutherford, dan Bohr
    • Siswa dapat menunjukkan sikap kerjasama, minat dan kreativitas, serta komitmen melaksanakan tugas dalam kerja kelompok
    • Siswa dapat menunjukkan kelemahan dari teori atom Thomson, Rutherford, atau Niels Bohr
    • Siswa dapat menghitung energi dan momentum sudut electron berdasarkan teori atom Bohr
    • Siswa dapat menghitung besar momentum sudut berdasarkan teori atom mekanika kuantum
    • Siswa dapat menghitung panjang gelombang atau frekuensi terbesar dari deret Lyman, Balmer, atau Paschen
    • Siswa dapat menerapkan konsep energi ionisasi, energi foton, dan/ atau energi foton berdasarkan data dan deskripsi elektron dalam atom.
    • Penilaian hasil karya/produk
    • Tes tertulis
 
  • Tes tertulis
  • Tes tertulis
  • Tes tertulis
  • Tes tertulis
  • Tes tertulis

Contoh Cara Menjabarkan Kompetensi dasar ke dalam Indikator Kompetensi

Mengidentifikasi kata-kata untuk indikator kompetensi

Cara atau langkah yang paling mudah untuk menjabarkan kompetensi dasar ke dalam indikator kompetensi adalah menambah kolom di sebelah kanan pada format standar kompetensi dan kompetensi dasar, seperti berikut ini.[6]

Satuan pendidikan      : Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Madrasah

  Tsanawiyah (MTs)

Mata pelajaran             : Ilmu Pengetahuan Sosial      

Kelas                           : VII, Semester 1\

Standar kompetensi

Kompetensi dasar

Indicator

1.Memahami lingkungan kehidupan manusia

1.1. Mendeskripsikan bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan.

1.2. Mendeskripsikan kehidupan pada masa praksara Indonesia

1.1.1. Menguraikan

1.1.2. Menunjukkan

1.1.3. Menjelaskan

1.2.1. Mengurutkan

1.2.2. Menggambarkan

1.2.3. Menulis Ulang

1.2.4. Menafsirkan

2. Memahami kehidupan social manusia

2.1. Mendeskripsikan interaksi sebagai proses social

2.2. Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian

2.3. Mengidentifikasi bentuk – bentuk intraksi social

2.4. Menguraikan proses interaksi social

2.1.1. Menjeleskan

2.1.2. Mengkritisi

2.1.3. Memberikan Evaluasi

2.2.1 Menjalaskan

2.2.2 Membedakan

2.2.3 Mempengaruhi

2.3.1 Mengidentifikasi

2.3.2 Mengurutkan

2.3.3 Mengamati

3. Memahami usaha manusia memenuhi kebutuhan

3.1. Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk social dan ekonomi yang bermoral dalam kaitannya dengan usaha memenuhi kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

3.2. Mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi dalam berbagai kegiatan sehari-hari

3.1.1 Menjelaskan

3.1.2 Mendefinisikan

3.1.3 Menunjukkan

3.1.4 Maramalkan

3.2.1 Membandingkan

3.2.2 Mengidentifikasi

3.2.3 Menerapkan

3.2.4 Manafsirkan

Untuk memilih kata – kata operasional dalam indicator, bisa melihat data – data operasional sebagaimana dikemukakan diatas, dan guru bisa menambahkan kata – kata operasional untuk mengisi indicator yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, kebutuhan derah dan satuan pendidikan masing – masing.

Setelah indicator kompetensi dari kompetensi dasar yang telah diajarkan telak diidentifikasi selanjutnya dikembangkan dalam kalimat indicator yang merupakan karakteristik kompetensi dasar.

Mengembangkan kalimat indikator

Setelah indikator kompetensi dari kompetensi dasar yang akan diajarkan telah diidentifikasi, selanjutnya dikembangkan dalam kalimat indikator yang merupakan karakteristik kompetensi dasar, sebagai berikut.

Standar Kompetensi : Memahami lingkungan kehidupan manusia

Kompetensi Dasar     : 1.1 Mendeskripsikan keragaman bentuk muka

  bumi, proses pembentukan, dan dampaknya

  terhadap kehidupan

Indikator Kompetensi :

1.1.1        menguraikan keragaman bentuk muka bumi

1.1.2        menunjukkan proses pembentukan muka bumi

1.1.3        menjelaskan dampak keragaman bentuk muka bumi terhadap kehidupan.[7]


[1] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (2006, Bandung:  PT.Remaja Rosdakarya), hal 139

[3] Ibid

[4] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hal 139-141.

[5] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=snp:merupakan acuan dalam mengmbangkan kurikulum KTSP

[6] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hal 141-143.

[7] Ibid, hal 144.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s