Sumber Belajar

Posted: Maret 19, 2012 in Uncategorized

Pendidikan merupakan kunci keberhasilan dan kesuksesan suatu bangsa. Dalam melaksanakan program pendidikan diperlukan guru dalam proses pembelajaran agar tercapai tujuan pendidikan. Istilah belajar  sudah terlalu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.   Di masyarakat,  kita sering menjumpai penggunaan istilah belajar seperti:  belajar membaca,  belajar bernyanyi, belajar berbicara, belajar matematika.Masih banyak lagi   penggunaan istilah, bahkan  termasuk kegiatan belajar yang sifatnya lebih umum dan tak mudah diamati, seperti, belajar hidup mandiri, belajar menghargai waktu, belajar berumah-tangga, belajar bermasyarakat, belajar mengendalikan diri, dan sejenisnya.

Bila kita ingin lebih mengkaji lebih mendalam mengenai pendidikan dan belajar, hal yang perlu untuk  tidak dilupakan adalah mengenai sumber belajar, semua kegiatan dalam belajar maupun dalam dunia pendidikan perlu adanya sumber belajar untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Oleh karena itu penulis ingin mengkaji dan memahami apa sebenarnya sumber belajar dalam dunia pendidikan itu. Dalam makalah ini penulis ingin menguraikan tentang pengertian sumber belajar, Jenis- jenis sumber belajar dalam pendiidikan, Fungsi sumber belajar, Kriteria memilih sumber belajar, Bagaimana memanfatkan  lingkungan sebagai sumber belajar, Prosedur merancang sumber belajar dan Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar.

A.    Pengertian Sumber Belajar

Pengajaran merupakan suatu proses sistemik yang meliputi banyak komponen. Salah satu komponen sistem pengajaran adalah sumber belajar. Dalam proses penyusunan program pembelajaran guru perlu menetapkan sumber apa yang dapat digunakan oleh siswa agar mereka dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Edgar Dale seorang ahli pendidikan mengemukakan sumber belajar adalah “segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang”. Pendapat lain dikemukakan oleh Association Educational Comunication and Tehnology (AECT) yaitu berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.

Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa pada hakikatnya sumber belajar begitu luas dan kompleks, lebih dari sekedar media pembelajaran. Segala hal yang sekiranya diprediksikan akan mendukung dan dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pembelajaran dapat dipertimbangkan menjadi sumber belajar. Dengan pemahaman ini maka guru bukanlah satu-satunya sumber tetapi hanya salah satu saja dari sekian sumber belajar lainnya.

Dalam pengajaran tradisional, guru sering hanya menetapkan buku sebagai sumber belajar. Itu pun biasanya terbatas hanya dari salah satu buku tertentu saja. Dalam proses pembelajaran yang dianggap modern sesuai tuntutan standar proses pendidikan dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi, maka sebaiknya guru memanfaatkan sumber-sumber lain selain buku. Hal ini penting, sebab penggunaan salah satu sumber tertentu saja akan membuat pengetahuan siswa terbatas dari satu sumber yang ditetapkan itu.[1]

Sumber belajar dalam pengajaran dapat juga diartikan segala apa (daya, lingkungan, pengalaman) yang dapat digunakan dan dapat mendukung proses atau kegiatan pengajaran secara lebih efektif dan dapat memudahkan pencapaian tujuan pengajaran/belajar, baik yang langsung atau tidak langsung, baik konkret atau yang abstrak.[2]

Dengan peranan sumber-sumber belajar (seperti: guru, buku, film, majalah, laboratorium, peristiwa dan sebagainya) memungkinkan individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak terampil menjadi terampil dan menjadikan individu dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik, mana yang terpuji dan yang tidak terpuji dan seterusnya. Dengan kata lain, sesungguhnya tidak ada bahan yang jelas mengenai sumber belajar, sebab segala apa yang bisa mendatangkan manfaat atau mendukung atau menunjang individu untuk berubah ke arah yang lebih positif, dinamis (belajar), atau menuju perkembangan dapat disebut sumber belajar.

B.     Macam-Macam Sumber Belajar

AECT (Association of Education Communication Technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar yaitu:

  1. Message (pesan), Pesan merupakan sumber belajar yang meliputi pesan formal, yaitu pesan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi, seperti pemerintah atau pesan yang disampaikan guru dalam situasi pembelajaran. Pesan-pesan ini selain disampaikan secara lisan juga dibuat dalam bentuk dokumen seperti kurikulum, peraturan pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, satuan pembelajaran dan sebagainya. Pesan nonformal yaitu pesan yang ada di lingkungan masyarakat luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama, prasasti, relief-relief pada candi, kitab-kitab kuno dan peninggalan sejarah lainnya.
  2. People (orang), Semua orang pada dasarnya dapat berperan sebagai sumber belajar namun secara umum dapat dibagi dua kelompok. Pertama kelompok orang yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang dididik secara professional untuk mengajar seperti guru, konselor, instruktur, widyaiswara. Termasuk kepala sekolah, laboran, teknisi sumber belajar, pustakawan dan lain-lain. Kelompok yang kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada di lingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas. Seperti politisi, tenaga kesehatan, pertanian, arsitek, psikolog, pengusaha, polisi dll.
  3. Materials (bahan), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat atau perangkat keras ataupun oleh dirinya sendiri. Bahan merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, OHT (Over Head Transparency), program slide, alat peraga dan sebagainya.
  4. Device (alat), yakni sesuatu (perangkat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Alat yang dimaksud disini adalah benda-benda yang berbentuk fisik sering juga disebut perangkat keras. Alat ini berfungsi untuk menyajikan bahan-bahan pada butir 3 diatas. Didalamnya mencakup multimedia projector, slide projector, OHP, film tape recorder, dan sebagainya.
  5. Technique (teknik), yaitu prosedur atau acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang, lingkungan untuk menyampaikan pesan. Misalnya, pengajaran berprogram, simulasi, demonstrasi, tanya jawab, CBSA.
  6. Setting (lingkungan) yaitu Latar atau lingkungan yang berada disekolah maupun di luar sekolah baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran termasuk di dalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, tempat workshop, halaman sekolah, kebun sekolah, lapangan sekolah dan sebagainya.[3] Dapat juga diartikan situasi atau suasana sekitar di mana pesan disampaikan. Baik lingkungan fisik, seperti yang telah disebutkan. Juga lingkungan nonfisik, misalnya suasana belajar itu sendiri; tenang, ramai, dan sebagainya.

Pengklasifikasian tersebut tidak terpisah, tapi saling berhubungan. Dalam kenyataan malah sulit dipisahkan secara partial, misalnya pada saat guru menerangkan (proses pengajaran) cara penggunaan suatu alat dan memperagakan penggunaan alat yang dimaksud setidaknya guru menggunakan 4 macam sumber belajar yang berperan di sana yaitu guru, alatnya, topik/pesan/informasi yang dijelaskan tentang cara penggunaan alat tersebut, dan teknik penyajiannya yakni dengan peragaan.

Kita dapat mengklasifikasikan sumber belajar dari versi lain.[4]

ü  Menurut sifat dasarnya, sumber belajar ada 2 macam yaitu sumber belajar insani (human) dan non-insani (non-human).

ü  Menurut segi pengembangannya, sumber belajar ada 2 macam yaitu:

  1. Learning resources by design (sumber belajar yang dirancang sengaja dipergunakan untuk keperluan pengajaran), contoh: peta, globe, peta timbul dan sebagainya.
  2. Learning resources by utilitarian (sumber belajar yang tidak dirancang untuk kepentingan tujuan belajar atau pengajaran), yaitu segala sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah dimanfaatkan guna memudahkan peserta didik yang sedang belajar. Jadi sifatnya insidental/seketika. Misalnya, tokoh, pahlawan, masjid dan sebagainya.

C.    Komponen Sumber Belajar

Setelah diadakan pembahasan lebih lanjut sebenarnya komponen sumber belajar iru sendiri juga merupakan suatu system. Artinya, sumber belajar itu sendiri merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat berbagai komponen yang saling berhubungan, saling mempengaruhi serta saling melengkapi. Komponen yang dimaksud adalah semua bagian yang ada di dalam sumber belajar, baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Bagian-bagian ini merupakan satu kesatuan yang sulit berdiri sendiri, meskipun kadang-kadang dapat digunakan secara terpisah. Adapun komponen-komponen sumber belajar dapat dianalisis sebagai berikut:

1.      Tujuan dan fungsi sumber belajar.

Sumber belajar yang dirancang mempunyai tujuan-tujuan instruksional tertentu. Karena itu, tujuan dan fungsi sumber belajar juga dipengaruhi oleh setiap jenis variasi sumber belajar yang digunakan. Sehingga sumber belajar yang dirancang, tujuan dan fungsinya akan lebih eksplisit dipengaruhi oleh perancang (guru) sumber itu sendiri, serta sangat tergantung karakteristik pada masing-masing jenis sumber belajar yang dgunakan.

Seorang ahli hukum yang berfungsi sebagai nara sumber akan membawa misi yang berhubungan dengan hukum serta mempunyai tujuan agar para penerima pesan dapat mengerti dan memahami hukum. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap sumber belajar selalu mempunyai tujuan baik baik secara implisit maupun eksplisit.

2.    Bentuk atau keadaan fisik sumber belajar

Contoh:

Kegiatan observasi di Pusat Sumber Belajar yang di dalamnya banyak komponen, bentuknya beraneka ragam. Misal, komponen perpustakaan, laboratorium, ruang observasi untuk micro teaching, ruang produksi media dan sebagainya. Kesemuanya sebagai media penunjang dalam pengembangan system instruksional.

3.    Pesan

Pesan mengandung 3 macam pengertian, yaitu:

  1. Tanda (kata-kata, gambar) termasuk pemilihan dan urutannya, yang menjadi tanggung jawab perancang, diharapkan bermakna bagi suatu sasaran.
  2. Pembawa tanda (macam gaya, tata letak, pencetakan) yang menjadi tanggung jawab penerbit atau produser.
  3. Informasi atau arti yang diterima, yang menjadi tanggung jawab sasaran.

Pesan termasuk komponen dalam sumber belajar, sebab sumber belajar harus mempu membawa pesan yang dapat dimanfaatkan (dipelajari) oleh pemakai (penerima pesan, peserta didik) sehingga mereka memperhatikan dan menangkap isi pesan itu secara efektif dan efisien serta terserap sepcara maksimal. Pesan sebagai salah satu komponen yang penting dalam sumber belajar, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kelengkapan isi pesan, kejelasan serta kemutakhiran isi pesan.
  2. Kemudahan penangkapan pesan sesuai dengan kondisi situasi tempat serta kemampuan dan kebutuhan penerima pesan.
  3. Isi pesan cukup sederhana, jelas, lengkap dan mudah ditangkap.[5]

D.    Faktor-Faktor Sumber Belajar

Agar dapat diketahui hakikat sumber belajar secara lebih jelas, serta dapat memanfaatkan sumber belajar lebih efektif dan efisien perlu pula diketahui faktor-faktor sumber belajar pada umumnya meliputi faktor :

  1. Perkembangan teknologi.
  2. Nilai-nilai budaya setempat
  3. Keadaan ekonomi pada umumnya.
  4. Keadaan pemakai (user)

E.     Fungsi Sumber Belajar

Adapun fungsi sumber belajar adalah :[6]                             

  1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
  2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
  4.  Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
  5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
  6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa.

 F.     Kriteria Memilih Sumber Belajar

Dalam rangka memanfaatkan sumber belajar secara lebih luas, hendaknya seorang guru memahami lebih dahulu beberapa kualifikasi yang dapat menunjuk sesuatu untuk dipergunakan sebagai sumber belajar dalam proses pengajaran.

Secara umum, sebelum guru mengambil keputusan terhadap penentuan sumber belajar, ia perlu mempertimbangkan segi-segi berikut ini:

  1. Ekonomis atau biaya, apakah ada biaya untuk penggunaan suatu sumber belajar (yang memerlukan biaya). Misalnya, OHP beserta transparansinya, video tape beserta cassete-nya.
  2. Praktis dan sederhana, yaitu mudah dijangkau, tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka.
  3. Fleksibel maksudnya sesuatu yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar jangan bersifat kaku atau paten, tapi harus bisa dikembangkan dan dimodifikasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
  4. Relevan dengan tujuan pengajaran dan komponen-komponen pengajaran lainnya.
  5. Dapat membantu efisiensi dan kemudahan pencapaian tujuan pengajaran.
  6. Teknisi atau tenaga, yaitu entah guru atau pihak lain yang mengoperasikan suatu alat tertentu yang dijadikan sumber belajar. Apakah tersedia teknisi khusus? Apakah dapat mengoperasikannya?.[7]
  7. Memiliki nilai posisitif baik guru maupun siswa dalam proses pengajaran
  8. Sesuai dengan strategi dan interaksi belajar mengajar yang telah dirancang dan kemudian dikembangkan.[8]

[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2006), 172-173.

[2] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2004), 162.

[3] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2010), 230.

[4] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, 165-166.

[5] Drs.Ahma Rohani, Media Instruksioanal, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 105-106.

[6] Akhmad Harum, Sumber Belajar ( Online ) http://bukunnq.wordpress.com, diakses 23 April 2011.

[7] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, 166.

[8] Darwyan Syah, Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Putra Grafika, 2007), 118-123.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s